A.
PENGERTIAN PENGELOLAAN KELAS
Pengelolaan
kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar
yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses
pembelajaran, seperti penghentian perilaku siswa yang memindahkan perhatian
kelas, memberikan ganjaran bagi siswa yang tepat waktu dalam menyelesaikan
tugas atau penetapan norma kelompok yang produktif.
B. TUJUAN PENGELOLAAN KELAS
Tujuan pengelolaan kelas pada
hakikatnya telah terkandung dalam tujuan pendidikan, secara umum tujuan
pengelolaan kelas adalah : “Penyediaan fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan
belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional, dan intelektual dalam kelas,
fasilitas yang disediakan itu memungkinkan siswa belajar dan bekerja,
terciptanya suasana sosial yang memberikan kepuasan, suasana disiplin,
perkembangan intelektual, emosional dan sikap serta apresiasi pada siswa.”
Tujuan keterampilan mengelola kelas
adalah:
1. Bagi
Siswa:
a.
Mengembangkan tanggung jawab siswa secara individu.
b. Menyadarkan siswa terhadap tingkah
laku yang sesuai dengan tata tertib.
c.
Menumbuhkan rasa percaya diri dalam mengikuti proses
pembelajaran.
d. Merasa nyaman mengikuti proses
pembelajaran.
e.
Agar siswa aktif melibatkan diri dalam tugas.
2. Bagi guru:
a.
Merasa nyaman dalam menyampaikan materi pelajaran.
b.
Memiliki kesadaran terhadap kebutuhan siswa.
c.
Memberi respon secara efektif dan positif terhadap tingkah
laku siswa yang menimbulkan gangguan-gangguan kecil pada saat proses
pembelajaran.
d.
Memahami dan menguasai seperangkat kemungkinan strategi
perbaikan berkaitan dengan masalah tingkah laku siswa yang mengarah pada tindakan
negatif.
e.
Membantu memudahkan dalam mencapai kompetensi yang harus
dikuasai siswa.
C.
KOMPONEN-KOMPONEN KETERAMPILAN
Komponen-komponen dalam mengelola kelas adalah sebagai
berikut:
1. Keterampilan yang berhubungan dengan
penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal.
a. Menunjukkan
Sikap Tanggap
Menggambarkan tingkah laku guru
yang tampak pada siswa, bahwa guru sadar dan tanggap terhadap perhatian
keterlibatan, masalah dan ketidak acuan mereka. Dengan adanya sikap ini siswa
merasa guru hadir ditengah mereka. Kesan ketanggapan ini dengan cara :
1) Memandang
Secara Saksama
Memungkinkan guru meliput
keterlibatan siswa dalam tugas dikelas serta menunjukkan kesiapan guru untuk
memberi respon baik terhadap kelompok maupun individu.
2) Memberikan
Pernyataan
Hal ini terkomunikasi kepada siswa
melalui pernyataan guru bahwa ia telah siap untuk memulai kegiatan belajar
serta siap memberi respon terhadap kebutuhan siswa. Hal yang harus dihindari
adalah menunjukkan dominasi guru dengan pernyataan atau komentar yang
mengandung ancaman.
Contoh : “Saya menunggu sampai
kalian diam”.
3) Gerak
Mendekati
Hal ini menunjukkan kesiapan, minat
dan perhatian kepada siswa. Hal ini membantu siswa yang menghadapi kesulitan
belajar, mengalami frustasi atau sedang marah. Gerak yang mendekati hendaknya
dilakukan dengan wajar, bukan menakuti atau maksud lain ??
4) Memberikan
Reaksi Terhadap Gangguan Dan Ketakacuan Siswa.
Dengan adanya teguran menandakan
adanya guru bersama siswa. Teguran harus diberikan pada saat yang tepat serta
dialamatkan pada sasaran yang tepat.
b. Membagi
Perhatian
Pengelolaan kelas yang efektif
terjadi apabila guru membagi perhatian kepada beberapa kegiatan yang
berlangsung dalam waktu yang sama. Hal ini dapat dilaksanakan dengan cara
sebagai berikut :
1) Visual
Hal ini menunjukkan perhatian
terhadap sekelompok siswa atau individu namun tidak kehilangan keterlibatannya
dengan kelompok siswa atau individu. Keterampilan ini digunakan untuk memonitor
kegiatan kelompok atau individu, mengadakan koreksi kegiatan siswa, memberi
komentar atau memberi reaksi terhadap siswa yang mengganggu.
2) Verbal
Guru dapat memberikan komentar
terhadap aktivitas seseorang yang dilihat atau dilaporkan oleh siswa lain.
Penggunaan teknik visual maupun verbal menunjukkan bahwa guru menguasai kelas.
c. Memusatkan
Perhatian
Keterlibatan siswa dalam KBM dapat
dipertahnkan apabila dari waktu kewaktu guru mampu memusatkan kelompok terhadap
tugas-tugas yang dilaksanakan. Hal ini dengan cara :
1) Menyiagakan
Siswa
Menciptakaan suasana yang menarik
sebelum guru menyampaikan pertanyaan atau topic pelajarannya. Misalnya : “ coba
anak-anak, semuanya memperhatikan dengan teliti gambar ini untuk membedakan
daerah mana yang subur dan daerah mana yang tanahnya gersang.
2) Menuntut
Tanggung Jawab Siswa
Komunikasi yang jelas dari guru
mengenai tugas siswa merupakan hal yang sangat penting dalam mempertahankan
pusat perhatian siswa seperti : meminta untuk diperagakan hasil pekerjaan
tugas.
d. Memberikan
Petunjuk Yang Jelas
Petunjuk yang diberikan harus
bersifat langsung, dengan bahasa yang jelas dan tidak membingungkan serta
dengan tuntutan yang wajar dapat dipenuhi oleh siswa.
e. Menegur
Tidak semua tingkah laku yang
mengganggukelompok, siswa dalam kelas dapat dicegah atau dihindari dengan baik,
sehingga guru harus melakukan teguran secara verbal atau memperingatkan siswa.
Teguran itu efektif jika :
1) Tegas
dan jelas tertuju kepada siswa yang mengganggu
2) Menghindari
peringatan yang kasar dan menyakitkn serta mengandung penghinaan.
3) Menghindari
ocehan atau ejekan guru atau yang berkepanjangan
4) Guru
dan siswa lebih baik mengadakan kesepakatan sehingga penyimpangan yang terjadi
hanya sifatnya mengingatkan. Seperti : “suharto ingat”!
f. Memberi
Penguatan
Komponen ini digunakan untuk
mengatasi siswa yang tidak mau terlibat dalam kegiatan pembelajaran atau
menggangu temanya. Yaitu dengan cara.
1) Guru
dapat memberikan penguatan kepada siswa yang menggagu yaitu dengan jalan”
menangkapnya” ketika ia melakukan tingkhlaku yang wajar dan berusaha “
menangkapnya” ketika ia melakukan tingkah yang tidak wajar dan berusaha “
menangkapnya” ketika ia melakukan tindakan yang tidak wajar dengan tujuan
perbuatan yang wajar tadi dapat terulang.
2) Guru
dapat memberikan berbagai komponen penguatan kepada siswa yang bertingkah laku
yang wajar kepada siswa yang lain untuk menjdi teladan.
2. Keterampilan yang berhubungan dengan
pengembalian kondisi belajar yang optimal, yaitu berkaitan dengan respon guru
terhadap gangguan siswa yang berkelanjutan dengan maksud agar guru dapat
melakukan tindakan remidial untuk mengembalikan kondisi belajar yang optimal.
Guru dapat menggunakan strategi:
a. Modifikasi tingkah laku.
Guru hendaknya menganalisis tingkah
laku siswa yang mengalami masalah/kesulitan dan berusaha memodifikasi tingkah
laku tersebut dengan mengaplikasikan pemberian penguatan secara sistematis.
1) Dapat
kerjasama dengan rekan kerja mengatasi masalah
2) Merinci
dengan tepat tingka yang menimbulkan masalah
3) Memilih
dengan teliti tingkah yang diperbaiki dengan mudah untuk diubah, tingkah yang
paling menjengkelkan yang sering muncul.
4) Tepat
memilih pemberian penguatan yang dapat digunakan untuk mempertahankan tingkah
yang telah menjadi baik.
b. Pendekatan pemecahan masalah
kelompok
Pendekatan
ini dapat dilakukan dengan cara memperlancar tugas-tugas melalui kerjasama di
antara siswa, memelihara kegiatan-kegiatan kelompok,
memelihara dan memulihkan semangat anak didik dan menangani konflik yang
timbul.
c. Menemukan dan memecahkan tingkah
laku yang menimbulkan masalah.
Guru dapat menggunakan seperangkat
cara untuk mengendalikan tingkahlaku keliru yang muncul, guru harus mengetahui
sebab dasar yang mengakibatkan ketidak patuhan tingkah tersebut. Serta berusaha
mencari pemecahanya.
D.
PRINSIP
PENGGUNAAN
- Kehangatan dan keantusiasan
Memudahkan terciptanya iklim kelas yang
menyenangkan.
- Tantangan
Penggunaan kata-kata, tindakan, atau bahan yang
menantang akan meninkatkan gairah siswa untuk belajar sehingga mengurangi
kemungkinan terjadinya tingkah yang menyimpang.
- Bervariasi
Penggunaan variasi dalam media gaya dan interaksi
mengajar meruakan kunci pengelolaan kelas.
- Keluwesan
Dalam PBM guru harus waspada mengmati jalannya
proses kegiatan tersebut. Termasuk kemungkinan munculnya gangguan siswa.
Sehingga diperlukan keluwesan tingkah laku guru untuk dapat merubahberbagai
strategi mengajar dengan memanipulasi berbagai komponen keterampilan yang lain.
- Penekanan pada hal-hal positif
Pada dasarnya didalam mengajar dan mendidik guru
harus menekankan kepada hal-hal yang positif dan sedapat mungkin menghindari
pemusatan perhatian siswa pada hal-hal yang negative.
Cara guru memelihara suasana yang positif antara
lain :
- Memberikan aksentuasi terhadap tingkah laku siswa yang positif dan menghindari ocehan atau celaa atau tingkah laku yang kurang wajar.
- Memberikan penguatan terhadap tingkah laku siswa yang positif.
- Penanaman disiplin diri
Kegiatan ini merupakan tujuan akhir pengelolaan
kelas. Untuk mencapainya guru harus selalu mendorong siswa untuk melaksanakan
disiplin diri sendiri. Hal ini akan lebih berhasil jika guru sendiri yang
menjadi contoh.
E.
HAL-HAL
YANG HARUS DI HINDARI
1. Campur
tangan yang berlebihan
Seperti guru menyela kegiatan yang
asik berlangsung dengan komen atau petunjuk mendadak, maka kegiatan siswa akan
terganggu atau terputus. Kesan guru tidak memperhatikan kebutuhan siswa, hanya
memuaskan dirinya saja.
2. Kelenyapan
Terjadi jika guru gagal secara
tepat melengkapi suatu intruksi penjelasan atau petunjuk, komentar. Kemudian
menghentikan penjelasan atau sajian tanpa alasan yang jelas dan membiarkan
pikiran anak mengawang-awang.
3. Ketidak
tepatan memulai dan mengahiri kegiatan
Terjadi jika guru memulai suatu aktivitas tanpa
mengakhiri aktivitas sebelumnya.
- Penyimpangan
Terjadi jika dalam kegiatan PBM guru
terlalu asik dengan kegiatan tertentu seperti sibuk dengan tempat duduk yang
tidak rapi atau cerita sesuatu yang tidak ada hubungan dengan materi terlalu
jauh, sehingga kelancaran kegiatan di kelas terganggu.
- Bertele-tele
Terjadi jika pembicaraan guru bersifat :
a. Mengulang-ulangi
hal-hal tertentu
b. Memperpanjang
pelajaran atau penjelasan
c. Mengubah
teguran menjadi ocehan yang panjang
Hal ini merupakan hambatan kemajuan
pelajaran atau aktivitas kelas. Siswa pada umumnya mencatat sebagai hal yang
membosankan dan tidak mau terlibat dalam kegiatan di kelas.
- Pengulangan Penjelasan Yang Tidak Perlu
Guru memberi petunjuk yang
berulang-ulang secara tidak perlu membagi kelas dalam memberikan petunjuk atau
secara terpisah memberi petunjuk ke setiap kelompok yang sebelumnya dapat
diberikan secara bersama-sama kepada seluruh kelompok sekali saja di depan
kelas.
F.
PERAN GURU DALAM STRATEGI PENGELOLAAN KELAS
Pada dasarnya proses belajar
mengajar merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan, di antaranya
guru merupakan salah satu faktor yang penting dalam menentukan berhasilnya
proses belajar mengajar di dalam kelas. Oleh karena itu guru dituntut untuk
meningkatkan peran dan kompetensinya, guru yang kompeten akan lebih mampu
menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan akan lebih mampu mengelola
kelasnya sehingga hasil belajar siswa berada pada tingkat yang optimal. Adam
dan Decey (dalam Usman, 2003) mengemukakan peranan guru dalam proses belajar
mengajar adalah sebagai berikut:
1. Guru
Sebagai Demonstrator
Guru menjadi sosok yang ideal bagi
siswanya hal ini dibuktikan apabila ada orang tua yang memberikan argumen yang
berbeda dengan gurunya maka siswa tersebut akan menyalahkan argumen si orangtua
dan membenarkan seorang guru. Guru adalah acuan bagi peserta didiknya oleh
karena itu segala tingkah laku yang dilakukannya sebagian besar akan ditiru
oleh siswanya. Guru sebagai demonstrator dapat diasumsikan guru sebagai
tauladan bagi siswanya dan contoh bagi peserta didik.
2. Guru
Sebagai Evaluator
Evaluator atau menilai sangat
penting adalah rangkaian pembelajaran karena setiap pembelajaran pada akhirnya
adalah nilai yang dilihat baik kuantitatif maupun kualitatif. Rangkaian
evaluasi meliputi persiapan, pelaksanaan, evaluasi. Tingkat pemikiran ada
beberapa tingkatan antara lain :
a.
Mengetahui
b.
Mengerti
c.
Mengaplikasikan
d.
Analisis
e.
Sintesis (analisis dalam berbagai sudut)
f.
Evaluasi
Manfaat evaluasi bisa digunakan
sebagai umpan balik untuk siswa sehingga hasil nilai ini bukan hanya suatu
point saja melainkan menjadi solusi untuk mencari kelemahan di pembelajaran
yang sudah diajarkan. Hal -hal yang paling penting dalam melaksanakan evaluasi.
Harus dilakukan oleh semua aspek baik efektif, kognitif dan
psikomotorik. Evaluasi dilakukan secara terus menerus dengan pola hasil evaluasi
dan proses evaluasi. Evalusi dilakuakan dengan berbagai proses instrument
harus terbuka
3. Guru
Sebagai Pengelola Kelas
Manager memenage kelas, tanpa
kemampuan ini maka performence dan karisma guru akan menurun, bahkan kegiatan
pembeajaran bisa kacau tanpa tujuan. Guru Sebagai Pengelola Kelas, agar anak
didik betah tinggal di kelas dengan motivasi yang tinggi untuk senantiasa
belajar di dalamnya. Beberapa fungsi guru sebagai pengelola kelas : Merancang
tujuan pembelajaran mengorganisasi beberapa sumber pembelajaran Memotivasi,
mendorong, dan menstimulasi siswa. Ada 2 macam dalam memotivasi belajar bisa
dilakukan dengan hukuman atau dengan reaward Mengawasi segala sesuatu apakah
berjalan dengan lancar apa belum dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran
4. Guru Sebagai Fasilitator
Seorang guru harus dapat menguasai
benar materi yag akan diajarkan juga media yang akan digunakan bahkan
lingkungan sendiri juga termasuk sebagai sember belajar yang harus dipelajari
oleh seorang guru. Seorang siswa mempunyai beberapa kemampuan menyerap materi
berbeda-beda oleh karena itu pendidik harus pandai dalam merancang media untuk
membantu siswa agar mudah memahami pelajaran. Keterampilan untuk merancang
media pembelajaran adalah hal yang pokok yang harus dikuasai, sehingga pelajaran
yang akan diajarkan bisa dapat diserap dengan mudah oleh peserta didik. Media
pembelajaran didalam kelas sangat banyak sekali macamnya misalkan torsu, chart
maket, LCD, OHP/OHT, dll.
G. BEBERAPA MASALAH PENGELOLAAN KELAS
Menurut Made Pidarta, masalah-masalah pengelolaan kelas
yang berhubungan dengan perilaku anak didik adalah :
1.
Kurang kesatuan misalnya dengan
adanya kelompok-kelompok klik-klik dan pertentangan jenis kelamin.
2.
Tidak ada standar prilaku dalam
bekerja kelompok. Misalnya : ribut, bercakap-cakap, pergi ke ana kemari, dan
sebagainya.
3.
Reaksi negatif terhadap anggota
dalam bekerja kelompok, misalnya: ribut, bermusuhan, mengucilkan dan
merendahkan kelompok bodoh.
4.
Kelas mentoleransi
kekeliruan-kekeliruan temannnya, menerima, mendorong perilaku anak didik yang
keliru.
5.
Mudah mereaksi ke hal-hal
negatif/ terganggu, misalnya: bila didatangi monitor, tamu-tamu, iklim yang
berubah dan sebagainya.
6.
Moral rendah, permusuhan,
agresif, misalnya: dalam lembaga yang alat-alat belajarnya kurang, kekurangan
uang, dan lain-lain.
7.
Tidak mampu menyesuaikan dengan
lingkungan yang berubah seperti tugas-tugas tambahan, anggota kelas yang baru,
situasi baru dan sebagainya.
H.
PENERAPAN SUATU SISTEM DALAM MENGELOLA KELAS
1.
Teknik mendekati.
Bila seorang siswa mulai bertingkah,
satu teknik yang biasanya efektif yaitu teknik mendekatinya. Kehadiran guru
bisa membuatnya takut, dan karena itu dapat menghentikannya dari perbuatan yang
disruptif , tanpa perlu menegur andai kata siswa mulai menampakan kecenderungan
berbuat nakal, memindahkan tempat duduknya ke meja guru dapat berefek
preventif.
2.
Teknik memberikan isyarat.
Apabila siswa berbuat penakalan
kecil, guru dapat memberikan isyarat bahwa ia sedang diawasi isyarat tersebut
dapat berupa petikan jari, pandangan tajam, atau lambaian tangan.
3.
Teknik mengadakan humor.
Jika insiden itu kecil, setidaknya
guru memandang efek saja, dengan melihatnya secara humoristis, guru akan dapat
mempertahankan suasana baik, serta memberikan peringatan kepada si pelanggar bahwa
ia tahu tentang apa yang akan terjadi.
4.
Teknik tidak mengacuhkan.
Untuk menerapkan cara ini guru
harus lues dan tidak perlu menghukum setiap pelanggaran yang diketahuinya.
Dalam kasus-kasus tertentu, tidak mengacuhkan kenakalan justru dapat membawa siswa
untuk di perhatikan.
5.
Teknik yang keras.
Guru dapat menggunakan teknik-teknik
yang keras apabila ia di hadapkan pada perilaku disruptif yang jelas tidak
terkendalikan. Contohnya mengeluarkannya dalam kelas.
6.
Teknik mengadakan diskusi secara
terbuka.
Bila kenakalan di kelas mulai
bertambah, sering guru menjadi heran. ia lalu menilai kembali tindakan dan
pengajarannya. untuk menjelaskan perbuatan-perbuaatan siswa-siswanya. Dan
menciptakan suasana belajar yang sedikit lebih sesuai daripada sebelumnya.
7.
Teknik memberikan penjelasan
tentang prosedur.
Kadang-kadang masalah kedisiplinan
ada hubungannya yang langsung dengan ketidakmampuan siswa melaksanakan tugas
yang diberikan kepadanya. Kesulitan ini terjadi apbila guru berasumsi bahwa
siswa memiliki keterampilan, padahal sebenarnya tidak. masalah yang hampir sama
yaitu masalah-masalah perilaku yang lazimnya berhubungan dengan
peristiwa-peristiwa yang tidak biasa dikelas.
8.
Mengadakan analisis.
Kadang-kadang terjadi hampir terus
menerus berbuat kenakalan, guru dapat mengetahui masalah yang akan di hadapinya
dan mengurangi keresahan siswanya.
9.
Mengadakan perubahan kegiatan. Apabila gangguan dikelas meningkat
jumlahnya, tindakan yang harus segera di ambil yaitu mengubah apa yang sedang
anda lakukan. Jika biasanya diskusi, maka ubahlah dengan memberikan
ringkasan-ringkasan untuk dibaca atau menyuruh mereka membaca buku-buku pilihan
mereka.
10. Teknik
menghimbau.
Kadang-kadang guru sering
mengatakan, “harap tenang”. Ucapan tersebut adakalanya membawa hasil; siswa
memperhatikannya. Tetapi apabila himbauan sering digunakan mereka cenderung
untuk tidak menggubrisnya.
I.
BERBAGAI PENDEKATAN DALAM PENGELOLAAN KELAS
Berbagai pendekatan tersebut adalah seperti dalam uraian
berikut:
1. Pendekatan Kekuasaan
Pengelolaan
kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku anak didik.
Peranan guru disini adalah menciptakan dan mempertahankan situasi disiplin
dalam kelas. Kedisiplinan adalah kekuatan yang menuntut kepada anak didik untuk
mentaatinya. Di dalamnya ada kekuasaan dan norma yang mengikat untuk ditaati
anggota kelas. Melalui kekuasaan dalam bentuk norma itu guru mendekatinya.
2. Pendekatan
Ancaman
Dari
pendekatan ancaman atau intimidasi ini, pengelolaan kelas adalah juga sebagai
suatu proses untuk mengontrol tingkah laku anak didik. Tetapi dalam mengontrol
tingkah laku anak didik dilakukan dengan cara memberi ancaman, misalnya
melarang, ejekan, sindiran, dan memaksa.
3. Pendekatan
Kebebasan
Pengelolaan
diartikan secara suatu proses untuk membantu anak didik agar merasa bebas untuk
mengerjakan sesuatu kapan saja dan dimana saja. Peranan guru adalah
mengusahakan semaksimal mungkin kebebasan anak didik.
4. Pendekatan
Resep
Pendekatan
resep (cook book) ini dilakukan dengan memberi satu daftar yang dapat
menggambarkan apa yang harus dan apa yang tidak boleh dikerjakan oleh guru
dalam mereaksi semua masalah atau situasi yang terjadi di kelas. Dalam daftar
itu digambarkan tahap demi tahap apa yang harus dikerjakan oleh guru. Peranan
guru hanyalah mengikuti petunjuk seperti yang tertulis dalam resep.
5. Pendekatan
Pengajaran
Pendekatan
ini didasarkan atas suatu anggapan bahwa dalam suatu perencanaan dan
pelaksanaan akan mencegah munculnya masalah tingkah laku anak didik, dan
memecahkan masalah itu bila tidak bisa dicegah. Pendekatan ini menganjurkan
tingkah laku guru dalam mengajar untuk mencegah dan menghentikan tingkah laku
anak didik yang kurang baik. Peranan guru adalah merencanakan dan
mengimplementasikan pelajaran yang baik.
6. Pendekatan
Perubahan Tingkah Laku
Sesuai
dengan namanya, pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengubah
tingkah laku anak didik. Peranan guru adalah mengembangkan tingkah laku anak
didik yang baik, dan mencegah tingkah laku yang kurang baik. Pendekatan
berdasarkan perubahan tingkah laku (behavior modification approach) ini
bertolak dari sudut pandangan psikologi behavioral.
7. Pendekatan
Sosio-Emosional
Pendekatan
sosio-emosional akan tercapai secarta maksimal apabila hubungan antar pribadi
yang baik berkembang di dalam kelas. Hubungan tersebut meliputi hubungan antara
guru dan siswa serta hubungan antar siswa. Didalam hal ini guru merupakan kunci
pengembangan hubungan tersebut. Oleh karena itu seharusnya guru mengembangkan
iklim kelas yang baik melalui pemeliharaan hubungan antar pribadi di kelas.
Untuk terrciptanya hubungan guru dengan siswa yang positif, sikap mengerti dan
sikap ngayomi atau sikap melindungi.
8. Pendekatan
Kerja Kelompok
Dalam
pendekatan in, peran guru adalah mendorong perkembangan dan kerja sama
kelompok. Pengelolaan kelas dengan proses kelompok memerlukan kemampuan guru
untuk menciptakan kondisi-kondisi yang memungkinkan kelompok menjadi kelompok
yang produktif, dan selain itu guru harus pula dapat menjaga kondisi itu agar
tetap baik. Untuk menjaga kondisi kelas tersebut guru harus dapat
mempertahankan semangat yang tinggi, mengatasi konflik, dan mengurangi
masalah-masalah pengelolaan.
9. Pendekatan
Elektis atau Pluralistik
Pendekatan
elektis (electic approach) ini menekankan pada potensialitas, kreatifitas, dan
inisiatif wali atau guru kelas dalam memilih berbagai pendekatan tersebut
berdasarkan situasi yang dihadapinya. Penggunaan pendekatan itu dalam suatu
situasi mungkin dipergunakan salah satu dan dalam situasi lain mungkin harus
mengkombinasikan dan atau ketiga pendekatan tersebut. Pendekatan elektis
disebut juga pendekatan pluralistik, yaitu pengelolaan kelas yang berusaha
menggunakan berbagai macam pendekatan yang memiliki potensi untuk dapat
menciptakan dan mempertahankan suatu kondisi memungkinkan proses belajar
mengajar berjalan efektif dan efisien.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar