Salah satu kemampuan dasar mengajar yang harus benar-benar dikuasai oleh guru adalah, keterampilan mengadakan variasi dalam kegiatan pembelajaran. Keterampilan ini memegang peranan yang tidak kalah pentingnya dengan keterampilan mengajar lainnya.
A. Pengertian variasi
Berikut adalah beberapa pengertian variasi menurut para ahli:
1. Menurut Soetomo(1993: 100), pemberian variasi dalam interaksi belajar mengajar dapat diartikan sebagai perubahan penjajaran dari yang satu ke orang lain dengan tujuan menghilangkan kebosanan
dan kejenuhan siswa dalam menerima bahan pengajaran yang diberikan guru, sehingga siswa dapat aktif lagi dan berpartisipasi dalam belajarnya.
dan kejenuhan siswa dalam menerima bahan pengajaran yang diberikan guru, sehingga siswa dapat aktif lagi dan berpartisipasi dalam belajarnya.
2. Menurut Hamid Darmadi (2010:3) menjelaskan bahwa dalam kegiatan pembelajaran, pengertian variasi merujuk pada tindakan dan perbuatan guru yang disengaja ataupun secara spontan, yang dimaksudkan untuk mengacu dan mengingat perhatian siswa selama pelajaran berlangsung.
3. Menurut Uzer Usman, variasi adalah suatu kegiatan guru dalam konteks proses interaksi belajar mengajar yang ditujukan untuk mengatasi kebosanan murid, sehingga dalam situasi belajar mengajar. Murid senantiasa menunjukkan ketekunan, antusiasme serta penuh partisipasi.
Dari definisi di atas, bisa ditarik kesimpulan bahwa variasi adalah pengubahan tingkah laku, sikap dan perbuatan guru dalam kontek belajar mengajar yang bertujuan untuk mengatasi kebosanan siswa, sehingga siswa memiliki minat belajar yang tinggi terhadap pelajarannya. Dan ini bisa dibuktikan melalui ketekunan, antusiasme, keaktifan mereka dalam belajar dan mengikuti pelajarannya di kelas. Anak tidak bisa dipaksakan untuk terus menerus memusatkan perhatiannya dalam mengikuti pelajarannya, apalagi jika guru mengajar tanpa menggunakan variasi alias monoton yang membuat siswa kurang perhatian, mengantuk, dan bosan.
Memberi variasi dalam proses pembelajaran merupakan hal yang penting dan harus diperhatikan oleh guru, karena banyak penelitian menunjukkan bahwa semakin banyak guru memberi variasi dalam mengajar, semakin berhasilah pengajarannya. Sebaliknya guru yang terus-menerus mengajar dengan ceramah dari awal sampai akhir akan menimbulkan kebosanan bagi siswa.
B. Komponen-komponen variasi
Berikut ini di uraikan secara jelas ketiga jenis komponen variasi tersebut.
1. Variasi gaya mengajar
Agar tidak terjadi kebosanan pada peserta didik dalam belajar, maka guru dapat melakukan variasi dalam gaya mengajarnya. Berikut adalah bentuk-bentuk variasi gaya mengajar yang dapat dilakukan :
a. Suara guru (teacher voice)
Suara guru dapat dikatakan faktor yang sangat penting didalam kelas karena sebagian besar kegiatan dikelas akan bersumber dari hal-hal yang disampaikan guru secara lisan.
Variasi suara adalah perubahan suara dari keras menjadi lembut, dari tinggi menjadi rendah, dari cepat berubah menjadi lambat, dari gembira menjadi sedih, atau pada suatu saat memberikan tekanan pada kata-kata tertentu
Suara guru pada saat menjelaskan materi pelajaran hendaknya bervariasi, baik dari intonasi, volume, nada dan kecepatan.
b. Pemusatan perhatian
Dalam mengajar guru sering menginginkan agar siswa memperhatikan butir-butir penting yang sedang disampaikan. Hal ini dapat dilakukan guru dengan mengucapkan kata-kata tertentu secara khusus disertai dengan isyarat atau gerakan seperlunya.
Teknik pemusatan ini digunakan untuk mengarahkan atau memusatkan perhatian siswa pada suatu persoalan dalam kegiatan pembelajaran. Jenisnya ada dua macam yaitu: pemusatan verbal dan pemusatan non verbal.
Pemusatan verbal berupa ucapan guru yang singkat tetapi mempunyai pengaruh yang besar. Pengaruh tersebut dapat mendorong atau memacu kedepan tetapi dapat pula menghentikan suatu aktivitas siswa. Misalnya: “dengarkan baik-baik” !!!!!.
Pemusatan non verbal berupa tindakan atau perbuatan guru, seperti: menggerak-gerakan tangan, tersenyum, mengerut dahi, menunjuk. Contoh: sambil menunjuk kegambar guru berkata “lihat gambar itu”.
c. Pemberian waktu/ kesenyapan (pausing)
Kesenyapan adalah suatu keadaan diam secara tiba-tiba dari pihak guru disaat sedang menerangkan sesuatu.
Adanya kesenyapan tersebut merupakan alat yang baik untuk menarik perhatian siswa. Dengan keadaan senyap/diamnya guru secara tiba-tiba bisa menimbulkan perhatian siswa, sebab siswa begitu tahu apa yang terjadi dan demikian pula setelah guru memberikan pertanyaan kepada siswa alangkah bagusnya apabila diberi waktu untuk berfikir dengan memberi kesenyapan supaya siswa bisa kembali mengingat informasi-informasi yang mungkin ia hafal, sehingga bisa menjawab petanyaan guru dengan baik dan tepat.
d. Kontak pandang (eye contact)
Bila guru yang sedang berbicara/ berintraksi dengan siswanya, sebaiknya pandangan menjelajahi seluruh kelas dan melihat kemata murid-murid untuk menunjukkan adanya hubungan yang intim dengan mereka. Kontak pandang dapat digunakan untuk menyampaikan informasi dan untuk mengetahui perhatian atau pemahaman siswa. Hal tersebut mencerminkan keakraban hubungan antara guru dan siswanya ketika mendengarkan hal tersebut berbicara menunjukkan sikap penuh perhatian terhadap masalah yang dibicarakan.
e. Gerakan badan dan mimik
Mimik dan gerakan badan merupakan alat komunikasi yang efektif, variasi mimik dan gerakan badan yang dilakukan secara tepat dapat mengkomunikasikan pesan secara leih efektif dibandingkan dengan bahasa yang bertele-tele. Mimik dengan gerakan badan yang dapat divariasikan antara lain:
1) Ekspresi wajah: tersenyum, mengerutkan dahi, mengangkat alis, cembrut, tertawa.
2) Ekspresi kepala: menggeleng, mengangguk, tegak/ mengangkat kepala, menunduk.
3) Ekspresi tangan: mengangkat tangan, mengacungkan jempol, mengepal tinju untuk menegaskan, tepuk tangan.
4) Eksperi bahu: mengangkat bahu.
5) Ekspresi badan secara keseluruhan: berdiri kaku, bersikap santai, gerak mendekati atau menjauhi.
Yang perlu diingat adalah bahwa gerakan badan dan mimik tersebut harus sesuai dengan pembawaan guru sendiri, tujuan yang ingin disampaikan, serta latar belakang sosial budaya didaerah tersebut. Oleh karena itu, guru harus berhati-hati mengekspresikan mimik dan gerakan badan ini.
f. Perubahan posisi guru
Pergantian posisi guru didalam kelas dapat digunakan untuk mempertahankan perhatian siswa. Terutama bagi calon guru dalam menyajikan pelajaran didalam kelas, biasakan bergerak bebas tidak kikuk atau kaku dan hindari tingkah laku negatif. Berikut ini ada bebrapa yang perlu diperhatikan:
1) Biasakan bergerak bebas didalam kelas
2) Jangan biasakan menerangkan sambil menulis menghadap kepapan tulis
3) Jangan biasakan menerangkan dengan arah pandangan kearah langit, kearah lantai, ataupun keluar, tetapi arahkan pandangan menjelajahi seluruh kelas
4) Bila diinginkan untuk mengobservasi seluruh kelas, bergeraklah perlahan-lahan dari belakang kearah depan untuk mengetahui tingkah laku murid.
Variasi dalam prubahan posisi guru hendaknya dilakukan secara wajar, maksudnya tidak berlebihan, karena dilakukan secara berlebihan anak didik bisa menjadi bingung dan dapat mengganggu proses belajar anak.
2. Variasi media dan bahan ajaran
Tiap peserta didik mempunyai kemampuan indra yang tidak sama, baik pendengaran maupun penglihatan, demikian juga kemampuan berbicara. Ada yang labih enak atau senang membaca, ada yang lebih senang mendengar dulu baru membaca, dan ada yang sebaliknya. Dengan variasi penggunaan media adalah Wahana menyalur informasi belajar atau penyalur pesan.
Kelemahan indra yang dimiliki tiap peserta didik misalnya, guru dapat memulai dengan berbicara terlebih dahulu, kemudisan menulis dipapan tulis, dilanjutkan dengan melihat contohj konkrit. Dengan variasi seperti itu dapat memberi stimulus terhadap peserta didik. Yang mana media mempunyai pranan yang penting dan proses belajar mengajar yang tidak bisa ditinggalkan, karena media dapat:
i. Menghemat waktu belajar
ii. Memudahkan pemahaman
iii. Meningkatkan perhatian siswa
iv. Meningkatkan aktivitas siswa
v. Mempertinggi daya ingat siswa.
a. Variasi media pandang
Penggunaan media pandang dapat diartikan sebagai penggunaan alat dan bahan ajar khusus untuk komunikasi, seperti buku, majalah globe, peta, majalah dinding, film, film strip, TV, radio, tape recorder, gambar grafik, model, dokumentasi, dan lain-lain.
b. Variasi media dengar
Pada umumnya proses belajar mengajar dikelas, suara guru adalah alat utama dalam berkomunikasi, variasi dalam penggunaan media sangat memerlukan saling bergantian atau kombinasi dengan media pandang dan media taktil. Sudah barang tentu ada sejumlah media dengar yang dapat dipakai untuk itu, diantaranya ialah pembicaraan peserta didik, rekaman bunyi dan suara, rekaman musik, rekaman drama, wawancara, bahkan rek suara ikan lumba-lumba, yang semua itu dapat memiliki relevansi dengan pengajaran.
c. Variasi media taktil
Komponen terakhir dari keterampilan menggunakan variasi media dan bahan ajar adalah penggunaan media yang memberikan kesempatan kepada peserta didik dan memanipulasi benda atau bahan ajar. Dalam hal ini akan melibatkan peserta didik dalam kegiatan menyusun pembuatan model, yang hasilnya dapat disebut sebagai media taktil.
3. Variasi pola interaksi
Yang dimaksud dengan variasi intraksi adalah frekuensi atau banyak sedikitnya pergantian aksi antara guru dengan siswa, dan siswa dengan siswa secara tepat. Mengajar bukanlah menuangkan seperangkat pengetahuan kepada sesuatu yang mati. Siswa bukanlah kaleng yang kosong melainkan sesuatu yang hidup dan dinamis serta penuh emosi. Siswa berintraksi terhadap lingkunga tidak hanya secara intelektual tetapi secara fisik,emosional dan sosial.
Sudah sewajarnya dalam pergaulan antara individu didalam kelas akan tercipta bentuk saling aksi dan mereaksi yang disebut intraksi edukatif. Dalam interaksi edukatif diharapkan semua yang terbuat di dalamnya berperan aktif sehingga tercipta komunikasi timbal balik antara guru dengan siswa, dan siswa dengan siswa.
Ada tiga macam interaksi, yaitu:
a. Interaksi guru-kelompok siswa
Pola ini dalam kegiatan pembelajaran di dominasi oleh guru, sehingga bersifat “teacher centered” gaya interksi ini misalnya guru berceramah untuk seluruh kelas bukan kepada individu tertentu. Pola ini juga merupakan pendahuluan bahan pengajaran baru untuk merangsang perhatian murid. Cara ini dimaksutkan agar murid menyadari betapa terbatasnya pengetahuan mereka tentang suatu masalah tertentu.
Pembicaraan di kelas ini memberikan manfaat kapada pengajar karena itu dapat menjajaki sejauh mana murid telah mengetahui hal yang akan diajarkan. Selanjutnya ia dapat menentukan, dari mana serta sampai berapa dalam ia akan membahas bahan pengajaran yang bersangkutan.
b. Interaksi guru-siswa
Dalam interaksi guru-siswa ini, pertanyaan ataupun penjelasan guru langsung diarahkan kepada individu siswa tertentu dan interaksi yang terjadi bersifat dua arah. Pola interaksi ini digunakan jika siswa tertentu telah ditugasi membaca buku di dalam atau di luar jam pelajaran. Untuk itu guru telah menyiapkan sejumlah pertanyaan yang berkaitan dengan isi buku yang dibaca ini. Guru langsung mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa.
c. Intereaksi siswa-siswa.
Pola ini bersifat “student centered” sesudah memberikan pengarahan, guru melontarkan masalah keseluruh kelas agar terjadi diskusi antara siswa untuk memecahkan masalah. Bentuk diskusi yang kecil atau secara berpasangan.
C. Tujuan keterampilan mengadakan variasi
Tujuan penggunaan variasi dalam proses belajar mengajar, antara lain :
1. Menghilangkan kejemuan dalam mengikuti proses belajar
2. Mempertahankan kondisi optimal belajar
3. Meningkatkan perhatian dan motivasi peserta didik
4. Memudahkan pencapaian tujuan pengajaran
5. Untuk menimbulkan dan meningkatkan perhatian peserta didik kepada aspek-aspek belajar mengajar yang relevan.
6. Untuk memberikan kesempatan bagi berkembangnya bakat ingin mengetahui dan menyelidiki pada peserta didik tentang hal-hal yang baru.
7. Untuk memupuk tingkah laku yang positif terhadap guru dan sekolah dengan berbagai cara mengajar yang lebih hidup dan lingkungan belajar yang lebih baik.
8. Guna memberi kesempatan kepada peserta didik untuk memperoleh cara menerima pelajaran yang disenanginya.
Menurut Mulyasa dalam Suwarna, dkk (2006: 85) mengemukakan beberapa tujuan keterampilan dasar mengajar mengadakan variasi, yaitu :
1. Menimbulkan dan meningkatkan perhatian siswa kepada aspek-aspek pembelajaran.
2. Memupuk tingkah laku yang positif terhadap guru dan sekolah dengan berbagai cara mengajara yang lebih hidup dan lingkungan belajar yang lebih baik.
3. Meningkatkan kadar CBSA dalam proses belajar mengajar dengan melibatkan siswa dengan berbagai tingkat kognisi.
Marno dan Idris (2008: 160) menyebutkan lima tujuan menggunakan variasi mengajar, yaitu:
- Menarik perhatian peserta didik terhadap materi pembelajaran yang tengah dibicarakan.
- Menjaga kelestarian proses pembelajaran baik secara fisik meupun metal.
- Membangkitkan motivasi belajar selama proses pembelajaran.
- Mengatasi situasi dan mengurangi kejenuhan dalam proses pembelajaran.
- Memberikan kemungkinan layanan pembelajaran individual.
D. Manfaat variasi
Manfaat dari variasi menurut Uzer Usman adalah :
1. Untuk menimbulkan dan meningkatkan perhatian siswa kepada aspek-aspek belajar yang relevan.
2. Untuk memberikan kesempatan bagi perkembangan bakat ingin tahu dan ingin menyelidiki siswa tentang hal-hal baru.
3. Untuk memupuk dan membentuk tingkah laku yang positif terhadap guru dan sekolah dengan berbagai gaya mengajar yang lebih hidup dan lingkungan belajar yang baik.
4. Guna memberi kesempatan kepada siswa untuk memperoleh cara menerima pelajaran yang disenanginya.
Manfaat Variasi menurut JJ Hasibuan adalah :
1. Memelihara dan meningkatkan siswa yang berkaitan dengan aspek belajar
2. Meningkatkan kemungkinan berfungsinya motivasi ingin tahu melalui kegiatan investigasi dan eksploitasi.
3. Membentuk sikap positif terhadap guru dan sekolah.
4. Kemungkinan dilayaninya siswa secara individual sehingga memberi keindahan belajar.
5. Mendorong aktivitas belajar dengan cara melibatkan siswa dengan berbagai kegiatan atau pengalaman belajar yang menarik dan berbagai tingkat kognitif.
E. Prinsip-prinsip Penggunaan Variasi dalam Kegiatan Pembelajaran
Beberapa prinsip berikut ini harus diperhatikan guru ketika menggunakan variasi dalam kegiatan pembelajaran, sehingga pada akhir pembelajaran menapakkan hasil yang baik, yaitu:
1. Variasi yang dibuat harus mengandung maksud tertentu, sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, karateristik kemampuan siswa latar belakang sosial budaya, materi yang sedang disajikan, serta kemampuan guru menciptakan variasi.
2. Variasi harus terjadi secara wajar, tidak berlebihan.
3. Variasi harus berlangsung secara lancar dan berkesinambungan.
4. Komponen variasi yang memerlukan pengorganisasian dan perencanaan yang baik perlu dirancang secara cermat dan dicantumkan dalam pembelajaran.
Dalam proses belajar mengajar perhatian siswa terhadap materi pelajaran yang diberikan sangat dituntut. Sedikitpun tidak diharapkan adanya siswa yang tidak atau kurang memperhatikan penjelasan guru, karena hal itu akan menyebabkan siswa tidak mengerti akan bahan yang diberikan guru.
Dalam jumlah siswa yang besar biasanya ditemukan kesukaran untuk mempertahankan agar perhatian siswa tetap pada materi pelajaran yang diberikan. Berbagai faktor memang mempengaruhi, misalnya faktor penjelasan guru yang kurang mengenai sasaran, situasi diluar kelas yang dirasakan siswa lebih menarik dari pada materi pelajaran yang diberikan guru, siswa yang kurang menyenangi materi yang diberikan guru.
Fokus permasalahan pentingnya perhatian ini dalam proses belajar mengajar, karena dengan perhatian yang diberikan siswa terhadap materi pelajaran yang dijelaskan, akan mendukung tercapainya tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
Tercapainya tujuan pembelajaran tersebut bila setiap siswa mencapai penguasaan terhadap materi yang diberikan dalam suatu pertemuan kelas. Indikator penguasaan siswa terhadap materi pelajaran adalah terjadinya perubahan didalam diri siswa. Jadi, perhatian adalah masalah yang tidak bisa dikesampingkan dalam konteks pencapaian tujuan pembelajaran. Karena itu, guru memperhatikan variasi mengajar, apakah sudah dapat meningkatkan dan memelihara perhatian siswa terhadap materi yang dijelaskan atau belum.
Guru yang bijaksana adalah guru yang pandai menempatkan diri dan pandai mengambil hati siswa. Dengan sikap ini siswa merasa diperhatikan oleh guru, siswa selalu ingin dekat dengan guru. Ketiadaan guru barang sehari disekolah tidak jarang dipertanyakan, siswa merasa rindu untuk selalu dekat disisi guru. Guru seperti itu biasanya karena gaya mengajarnya dan pendekatannya yang sesuai dengan psikologi siswa. Variasi mengajar mempunyai relevansi dengan gaya belajar siswa, disela-sela penjelasan selalu diselingi dengan humor pendekatan yang edukatif, jauh dari sikap permusuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar