------->WELCOME TO MY BLOG.WWW.SYAMDNIA.BLOGSPOT.COM<-------

Rabu, 19 Juni 2013

PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME



A.    Pengertian Pendekatan Konstruktivisme

Pendekatan konstruktivisme adalah sebuah pendekatan yang pelaksanaannya memposisikan siswa sebagai individu yang aktif mengkonstruksikan sendiri pengetahuan yang berasal dari pengalaman-pengalamannya.
Menurut Saefudin (2008), pendekatan konstruktivisme adalah pendekatan pembelajaran yang mengajak siswa untuk berpikir dan mengkonstruksi dalam memecahkan suatu permasalahan secara bersama-
sama sehingga didapatkan suatu penyelesaian yang akurat.
Dalam Sagala (2007:88), pendekatan konstruktivisme (constructivism) yaitu landasan berpikir, pendekatan kontekstual yang menitikberatkan pada pembangunan pegetahuan sedikit demi sedikit, kemudian diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak tiba-tiba, pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat, tetapi siswa harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.
Sedangkan menurut Suherman (2003), pendekatan konstruktivisme adalah pendekatan pembelajaran yang berdasarkan bahwa dengan merefleksikan pengalaman-pengalaman kita, kita akan dapat membangun pemahaman terhadap dunia yang di mana kita hidup didalamnya.

B.     Karakteristik Pendekatan Konstruktivisme
Menurut Hanafiah (2010), pendekatan konstruktivisme memiliki karakteristik sebagai berikut:
1.      Proses pembelajaran berpusat pada siswa, sehingga siswa mempunyai peluang untuk aktif dalam proses pembelajaran.
2.      Proses pembelajaran merupakan proses integrasi pengetahuan baru dengan pengetahuan lama yang dimiliki siswa.
3.      Berbagai pandangan yang berbeda diantara siswa dihargai dan sebagai tradisi dalam proses pembelajaran.
4.      Siswa didorong untuk menemukan berbagai kemungkinan dan mensintesiskan secara terintegrasi.
5.      Pembelajaran berbasis masalah dalam rangka mendorong siswa dalam proses pencarian yang lebih alami.
6.      Proses pembelajaran mendorong terjadinya koperatif dan kompetitif dikalangan siswa secara aktif, kreatif, inovatif, dan menyenangkan.
7.      Proses pembelajaran dilakukan secara kontektual, yaitu siswa dihadapkan kedalam pengalaman nyata.      

Selain itu, Trianto (2007) menyebutkan bahwa pendekatan konstruktivisme mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1.    Dengan adanya pendekatan konstruktivisme, pengembangan pengetahuan bagi siswa dapat dilakukan oleh siswa itu sendiri melalui kegiatan penelitian atau pengamatan langsung sehingga siswa dapat menyalurkan ide-ide baru sesuai dengan pengalaman dengan menemukan fakta yang sesuai dengan kajian teori,
2.    Antara pengetahuan-pengetahuan yang ada harus ada keterkaitan dengan pengalaman yang ada dalam diri siswa,
3.    Setiap siswa mempunyai peranan penting dalam menentukan apa yang mereka pelajari.
4.    Peran guru hanya sebagai pembimbing dengan menyediakan materi atau konsep apa yang akan dipelajari serta memberikan peluang kepada siswa untuk menganalisis sesuai dengan materi yang dipelajari. 

Suparno (1997:49) mengungkapkan prinsip-prinsip konstruktivisme yang apabila kita kaji secara seksama dapat dijadikan pedoman dalam pembelajaran matematika yang memberikan penekanan pada aktivitas siswa. Prinsip-prinsip tersebut adalah:
1.      Menekankan peran aktif siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan secara bermakna.
2.      Pengetahuan tidak dapat dipindahkan maknanya dari guru ke siswa.
3.      Siswa membangun pengetahuan terus menerus hingga terjadi perubahan
konsepsi yang sesuai dengan konsep ilmiah.
4.      Peran guru hanya membantu menyediakan sarana dan situasi kondusif agar
proses pembentukan pengetahuan terjadi dengan mudah pada siswa.

C.    Pendekatan Konstruktivisme dalam Pembelajaran

Pada pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme guru bertugas memberi motivasi supaya siswa mempunyai kemauan untuk belajar. Bagaimana suatu permasalahan diselesaikan merupakan tugas siswa, guru tidak diperbolehkan memberi tahu apalagi menjelaskan konsep materi. Peran guru sebatas memfasilitasi siswa untuk belajar, membimbing serta mengarahkan siswa supaya dapat menemukan konsep-konsep matematika.

Pembelajaran berdasarkan konstruktivisme berusaha untuk melihat dan memperhatikan konsepsi dan persepsi siswa dari kacamata siswa sendiri. Guru memberi tekanan pada penjelasan tentang pengetahuan tersebut dari kacamatasiswa sendiri. Guru dalam pembelajaran ini berperan sebagai moderator dan fasilitaitor, Suparno (1997 : 66) menjabarkan beberapa tugas guru tersebut sebagai berikut :
1.      Menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan siswa bertanggung jawab dalam membuat rancangan, proses penelitian.
2.      Menyediakan atau memberikan kegiatan–kegiatan yang merangsang keingintahuan siswa membantu mereka untuk mengeskpresikan gagasan–gagasannya dan mengkomunikasikan ide ilmiah mereka. Menyediakan sarana yang merangsang siswa berpikir produktif. Guru harus menyemangati siswa.
3.      Memonitor, mengevaluasi, dan menunjukkan apakah pemikiran siswa jalan atau tidak. Guru menunjukkan dan mempertanyakan apakah pengetahuan siswa itu berlaku untuk menghadapi persoalan baru yang berkaitan.

Guru konstruktivis perlu mengerti sifat kesalahan siswa, sebab perkembangan intelektual dan matematis penuh dengan kesalahan dan kekeliruan. Ini adalah bagian dari konstruksi semua bidang pengetahuan yang tidak bisa dihindarkan. Guru perlu melihat kesalahan sebagai suatu sumber informasi tentang penalaran dan sifat skema siswa.

D.    Pendekatan Konstruktivisme dalam Pembelajaran Matematika

Pendekatan  konstruktivisme dalam pembelajaran matematika adalah sebuah proses pembelajaran yang menganggap pengetahuan matematika siswa adalah serangkaian pengalaman siswa hasil bentukannya sendiri dengan lingkungannya. Konsep pembelajaran konstruktivis didasarkan kepada kerja akademik para ahli psikologi dan peneliti yang peduli dengan konstruktivisme.

Pembelajaran akan berhasil apabila guru membuat perencanaan yang mempertimbangkan aspek siswa, materi, urutan penyajian, proses belajar mengajar, alat peraga serta penilaian. Perencanaan dibuat dengan maksud untuk mempermudah guru dalam memberikan rangsangan, arahan, bimbingan dan motivasi kepada siswa agar lebih banyak terlibat aktif dalam berbagai kegiatan seperti mengalami, melakukan, mencoba, menemukan konsep-konsep dan rumus matematika khususnya luas bangun datar.

Berdasarkan uraian prinsip-prinsip konstruktivisme menurut Suparno di awal tadi menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran, diperlukan suatu cara yang mengarah kepada kegiatan yang lebih menitikberatkan kepada aktivitas siswa baik secara fisik, mental, dan sosial. Kegiatan-kegiatan tersebut diperlukan untuk memahami konsep-konsep matematika yang dapat mengembangkan daya nalar siswa.

Para ahli konstruktivisme mengatakan bahwa ketika siswa mencoba menyelesaikan tugas-tugas di kelas, maka pengetahuan matematika dikonstruksi secara aktif ( Suherman, 2001) Para ahli konstruktivisme yang lain mengatakan bahwa dari perspektifnya konstruktivis, belajar matematika bukanlah suatu proses “pengepakan” pengetahuan secara hati-hati, melainkan hal mengorganisir aktivitas, di mana kegiatan ini diinterpretasikan secara luas. Selanjutnya Cobb, mengatakan bahwa belajar matematika merupakan proses di mana siswa secara aktif menkonstruksi pengetahuan matematika.

Para ahli konstruktivis setuju bahwa belajar matematika melibatkan manipulasi aktif dari pemaknaan bukan hanya bilangan dan rumus-rumus saja. Mereka menolak paham matematika dipelajari dalam satu koleksi yang berpola linear. Setiap tahap dari pembelajaran melibatkan suatu proses penelitian terhadap makna dan penyampaian keterampilan hafalan dengan cara yang tidak ada jaminan bahwa siswa akan menggunakan keterampilan intelegensinya dalam setting matematika. Lebih jauh lagi para ahli konstrutivis merekomendasi untuk menyediakan lingkungan belajar di mana siswa dapat mencapai konsep dasar, keterampilan algoritma, proses heuristik dan kebiasaan bekerja sama dan berefleksi .

Dalam kaitannya dengan belajar, Cobb dkk (1992) menguraikan bahwa “belajar dipandang sebagai proses aktif dan konstruktif di mana siswa mencoba untuk menyelesaikan masalah yang muncul sebagaimana mereka berpartisipasi aktif dalam latihan matematika di kelas. Confrey (1990), yang juga banyak bicara dalam konstruktivisme menawarkan suatu powerfull contruction dalam matematika.
Dalam mengkonstruksi pengertian matematika melalui pengalaman, ia mengidentifikasi 10 karakteristik dari powerfull contructions berfikir siswa. Lebih jauh ia mengatakan bahwa powerfull construction ditandai oleh:
1.      Sebuah struktur dengan ukuran kekonsistenan internal,
2.      Suatu keterpaduan antar bermacam-macam konsep,
3.      Suatu kekonvergenan di antara aneka bentuk dan konteks,
4.      Kemampuan untuk merefleksi dan menjelaskan,
5.      Sebuah kesinambungan sejarah,
6.      Terikat kepada bermacam-macam system symbol,
7.      Suatu yang cocok dengan pendapat expert (ahli),
8.      Suatu yang potensial untuk bertindak sebagai alat untuk konstruksi lebih lanjut,
9.      Sebagai petunjuk untuk tindakan berikutnya,
10.  Suatu kemampuan untuk menjustifikasi dan mempertahankan (Confrey, 1990: 110).

Semua ciri-ciri powerfull di atas dapat digunakan secara efektif dalam proses belajar mengajar di kelas. Menurut Confrey (1990), siswa-siswa matematika seringkali hanya menerapkan satu kriteria evaluasi mereka dari yang mereka konstruksi misalkan dengan bertanya “Apakah ini disetujui para ahli? Atau dalam istilah konstruktivis “Apakah itu benar?” Akibatnya pengetahuan matematika menjadi terisolasi dari sisa pengalaman mereka yang dikonstuksi dari aksi mereka di dunia dalam pola yang spontan dan interaktif.

Oleh karena itu pandangan siswa tentang ‘kebenaran’ ketika siswa belajar matematika perlu mendapat pengawasan ahli dan masyarakat menjadi tidak lengkap. Dalam kasus ini peranan guru dan peranan siswa lain adalah menjustifikasi berfikirnya siswa dalam matematika. Salah satu yang mendasar dalam pembelajaran matematika menurut konstruktivis adalah suatu pendekatan dengan sebab tak terduga sebelumnya dengan suatu keterikatan yang cerdik dalam mempelajari karakter, kejadian, cerita, dan implikasinya.

E.     Implementasi Pendekatan Konstruktivisme Dalam Pembelajaran Matematika.
Implementasi pendekatan konstruktivisme dalam pembelajaran meliputi 4 tahap yaitu :
1.      Persepsi
Siswa didorong agar mengemukakan pengetahuan awalnya tentang konsep yang akan dibahas. Bila perlu guru memancing dengan memberikan pertanyaan –pertanyaan problematik tentang fenomena yang sering ditemui sehari-hari dengan mengaitkan konsep yang akan dibahas. Siswa diberi kesempatan untuk mengkomunikasikan, mengilustrasikan pemahaman tentang konsep itu.
2.      Eksplorasi
Siswa diberi kesempatan untuk menyelidiki dan menemukan konsep pengumpulan, pengorganisasian, dan penginterpretasian data dalam suatu kegiatan yang telah dirancang guru. Kemudian secara berkelompok didiskusikan dengan kelompok lain. Secara keseluruhan, tahap ini akan memenuhi rasa keingintahuan siswa tentang fenomena alam di sekelilingnya.
3.      Diskusi dan penjelasan konsep serta.
Saat siswa memberikan penjelasan dan solusi yang didasarkan pada hasil observasinya ditambah dengan penguatan dari guru, maka siswa membangun pemahaman baru tentang konsep yang dipelajari. Hal ini menjadikan siswa tidak ragu–ragu lagi tentang konsepsinya.
4.      Pengembangan dan aplikasi
Guru berusaha menciptakan iklim pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat mengaplikasikan pemahaman konseptualnya, baik melalui kegiatan atau pemunculan dan pemecahan masalah–masalah yang berkaitan dengan isu–isu di lingkungannya.

F.     Evaluasi Pembelajaran Matematika menurut Konstruktivisme
Untuk mendeskripsikan evaluasi pembelajaran, perlu diklarifikasi seberapa bedakah antara asesmen dan evaluasi. Menurut Webb (1992) evaluasi dalam pendidikan adalah suatu investigasi matematis tentang nilai atau merit tentang suatu tujuan. Termasuk di dalam evaluasi adalah sekumpulan bukti-bukti secara sistematis untuk membantu membuat keputusan tentang (1) siswa belajar; (2) pengembangan materi; (3) program.
Wood (1987) memberikan definisi umum tentang assesmen sebagai berikut : Assesmen dianggap sebagai penyediaan suatu pertimbangan menyeluruh dari suatu fungsi individu di dalam melukiskan rasa paling luas dalam berbagai bukti baik kualitatif maupun kuantitatif dan karenanya sampai kepada pengujian keterampilan kognitif dengan teknik paper-pencil untuk sejumlah orang. Webb and Briars (1990) menambahkan bahwa : Assesmen dalam matematika adalah proses penentuan apakah siswa tahu. Merupakan suatu bagian dari aktivitas pengajaran matematika, yaitu pengecekan apakah siswa memahami, mendapatkan umpan balik dari siswa, kemudian menggunakan informasi ini untuk membimbing pengembangan pengalaman belajarnya.
Meskipun ada perbedaan pengertian antara evaluasi dan assesmen yang dimaksudkan disini adalah cara guru mengases (menilai) prestasi siswa belajar matematika. Jacobsen dkk. (1985) mengidentifikasi tahap ketiga dari pembelajaran adalah evaluasi. Di sini guru mencoba mengumpulkan informasi yang dapat digunakan untuk menentukan apakah pembelajarannya telah sukses? Apa yang semestinya guru lakukan untuk mengukur pemahaman konsep matematika? Dalam memberikan assesmen pengetahuan matematika siswa, mestinya diperoleh data kemampuan siswa dalam matematika, harus memasukkan tentang pengetahuan siswa pada konsep matematika, prosedur matematika, dan kemampuan problem solving, reasoning, dan komunikasi, (NCTM, 1990).
Evaluasi dalam pembelajaran matematika menggunakan pendekatan konstruktivis terjadi sepanjang proses pembelajaran berlangsung (on going assessment). Dari awal sampai akhir guru memantau perkembangan siswa, pemahaman siswa terhadap suatu konsep matematika, ikut membentuk dan mengawasi proses konstruksi pengetahuan (matematika) yang dibuat siswa.
                       
G.    Kelebihan Pendekatan Konstruktivisme
Menurut Nuralilah (2008:19) kelebihan-kelebihan pendekatan kostruktivisme antara lain:
1.      Pembelajaran dimulai dari konsep yang dimiliki peserta didik, bukan konsep yang dimiliki oleh guru sehingga kegiatan peserta didik berangkat dari pengalaman yang relevan dengan tingkat perkembangannya
2.      Kegiatan dipilih sesuai dengan minat kebutuhan anak.
3.      Memberikan kesempatan peserta didik menemukan dan menerapkan idenya sendiri dengan tujuan supaya seluruh kegiatan akan lebih bermakna bagi siswa.
4.      Menyajikan kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan permasalahan yang sering ditemui dalam lingkungan peserta didik.
5.      Keterampilan sosial peserta didik akan terbina seperti saling menghargai pendapat orang lain (toleransi) kerja sama.
6.      Peserta didik dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-idenya, sebagai pengalaman belajar agar ia pun mampu dan terbiasa menghadapi masalah dalam kehidupan sehari-hari.

H.    Kelemahan Pendekatan Konstruktivisme
Adapun kelemahan-kelemahan dari pendekatan konstruktivisme adalah sebagai berikut:
1.      Langkah yang sulit dalam menerapkan model konstruktivisme di kelas tinggi sebab anak terbiasa dengan pembelajaran yang konvensioanal sebelumnya,
2.      Lebih banyak waktu yang diperlukan dalam pengembangan konsep sebab fokus lebih kepada kegiatan-kegiatan dalam menemukan konsep itu,
3.      Banyak membutuhkan alat bantu dan benda manipulatif untuk pembelajaran, mengigat kemampuan setiap anak yang berbeda yang dirasakan belum memahami konsep tersebut ketika diajarkan dengan alat peraga,
4.      Intensitas bimbingan dan arahan menuju konsep yang diharapkan lebih tinggi untuk menghindari miskonsepsi tersebut,
Guru perlu mengobservasi setiap anak dengan teliti, supaya bisa diketahui sejauh mana dia memperoleh pemahaman mengenai konsep yang dipelajari dalam kegiatan dan proses pembelajaran dilakukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar