A.
Pengertian
Pendekatan Konstruktivisme
Pendekatan
konstruktivisme adalah sebuah pendekatan yang pelaksanaannya memposisikan siswa
sebagai individu yang aktif mengkonstruksikan sendiri pengetahuan yang berasal
dari pengalaman-pengalamannya.
Menurut Saefudin (2008), pendekatan konstruktivisme adalah
pendekatan pembelajaran yang mengajak siswa untuk berpikir dan mengkonstruksi
dalam memecahkan suatu permasalahan secara bersama-
sama sehingga didapatkan suatu penyelesaian yang akurat.
sama sehingga didapatkan suatu penyelesaian yang akurat.
Dalam
Sagala (2007:88), pendekatan konstruktivisme (constructivism) yaitu landasan
berpikir, pendekatan kontekstual yang menitikberatkan pada pembangunan
pegetahuan sedikit demi sedikit, kemudian diperluas melalui konteks yang
terbatas (sempit) dan tidak tiba-tiba, pengetahuan bukanlah seperangkat
fakta-fakta, konsep atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat, tetapi
siswa harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman
nyata.
Sedangkan menurut Suherman (2003), pendekatan konstruktivisme
adalah pendekatan pembelajaran yang berdasarkan bahwa dengan merefleksikan
pengalaman-pengalaman kita, kita akan dapat membangun pemahaman terhadap dunia
yang di mana kita hidup didalamnya.
B.
Karakteristik Pendekatan Konstruktivisme
Menurut Hanafiah (2010), pendekatan konstruktivisme
memiliki karakteristik sebagai berikut:
1.
Proses pembelajaran
berpusat pada siswa, sehingga siswa mempunyai peluang untuk aktif dalam proses
pembelajaran.
2.
Proses pembelajaran
merupakan proses integrasi pengetahuan baru dengan pengetahuan lama yang dimiliki
siswa.
3.
Berbagai pandangan
yang berbeda diantara siswa dihargai dan sebagai tradisi dalam proses
pembelajaran.
4.
Siswa didorong
untuk menemukan berbagai kemungkinan dan mensintesiskan secara terintegrasi.
5.
Pembelajaran
berbasis masalah dalam rangka mendorong siswa dalam proses pencarian yang lebih
alami.
6.
Proses pembelajaran
mendorong terjadinya koperatif dan kompetitif dikalangan siswa secara aktif,
kreatif, inovatif, dan menyenangkan.
7.
Proses pembelajaran
dilakukan secara kontektual, yaitu siswa dihadapkan kedalam pengalaman
nyata.
Selain itu, Trianto (2007) menyebutkan bahwa pendekatan
konstruktivisme mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1. Dengan adanya pendekatan konstruktivisme, pengembangan
pengetahuan bagi siswa dapat dilakukan oleh siswa itu sendiri melalui kegiatan
penelitian atau pengamatan langsung sehingga siswa dapat menyalurkan ide-ide
baru sesuai dengan pengalaman dengan menemukan fakta yang sesuai dengan kajian
teori,
2. Antara pengetahuan-pengetahuan yang ada harus ada keterkaitan
dengan pengalaman yang ada dalam diri siswa,
3. Setiap siswa mempunyai peranan penting dalam menentukan apa
yang mereka pelajari.
4.
Peran guru hanya sebagai pembimbing
dengan menyediakan materi atau konsep apa yang akan dipelajari serta memberikan
peluang kepada siswa untuk menganalisis sesuai dengan materi yang dipelajari.
Suparno (1997:49)
mengungkapkan prinsip-prinsip konstruktivisme yang apabila kita kaji secara
seksama dapat dijadikan pedoman dalam pembelajaran matematika yang memberikan
penekanan pada aktivitas siswa. Prinsip-prinsip tersebut adalah:
1.
Menekankan
peran aktif siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan secara bermakna.
2.
Pengetahuan
tidak dapat dipindahkan maknanya dari guru ke siswa.
3.
Siswa
membangun pengetahuan terus menerus hingga terjadi perubahan
konsepsi yang sesuai dengan konsep ilmiah.
konsepsi yang sesuai dengan konsep ilmiah.
4.
Peran
guru hanya membantu menyediakan sarana dan situasi kondusif agar
proses pembentukan pengetahuan terjadi dengan mudah pada siswa.
proses pembentukan pengetahuan terjadi dengan mudah pada siswa.
C.
Pendekatan
Konstruktivisme dalam Pembelajaran
Pada
pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme guru bertugas memberi motivasi
supaya siswa mempunyai kemauan untuk belajar. Bagaimana suatu permasalahan
diselesaikan merupakan tugas siswa, guru tidak diperbolehkan memberi tahu
apalagi menjelaskan konsep materi. Peran guru sebatas memfasilitasi siswa untuk
belajar, membimbing serta mengarahkan siswa supaya dapat menemukan
konsep-konsep matematika.
Pembelajaran
berdasarkan konstruktivisme berusaha untuk melihat dan memperhatikan konsepsi
dan persepsi siswa dari kacamata siswa sendiri. Guru memberi tekanan pada penjelasan
tentang pengetahuan tersebut dari kacamatasiswa sendiri. Guru dalam
pembelajaran ini berperan sebagai moderator dan fasilitaitor, Suparno (1997 :
66) menjabarkan beberapa tugas guru tersebut sebagai berikut :
1.
Menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan siswa
bertanggung jawab dalam membuat rancangan, proses penelitian.
2.
Menyediakan atau memberikan kegiatan–kegiatan yang merangsang
keingintahuan siswa membantu mereka untuk mengeskpresikan gagasan–gagasannya
dan mengkomunikasikan ide ilmiah mereka. Menyediakan sarana yang merangsang
siswa berpikir produktif. Guru harus menyemangati siswa.
3.
Memonitor, mengevaluasi, dan menunjukkan apakah pemikiran
siswa jalan atau tidak. Guru menunjukkan dan mempertanyakan apakah pengetahuan
siswa itu berlaku untuk menghadapi persoalan baru yang berkaitan.
Guru
konstruktivis perlu mengerti sifat kesalahan siswa, sebab perkembangan
intelektual dan matematis penuh dengan kesalahan dan kekeliruan. Ini adalah bagian
dari konstruksi semua bidang pengetahuan yang tidak bisa dihindarkan. Guru
perlu melihat kesalahan sebagai suatu sumber informasi tentang penalaran dan
sifat skema siswa.
Pendekatan konstruktivisme dalam pembelajaran matematika
adalah sebuah proses pembelajaran yang menganggap pengetahuan matematika siswa
adalah serangkaian pengalaman siswa hasil bentukannya sendiri dengan
lingkungannya. Konsep
pembelajaran konstruktivis didasarkan kepada kerja akademik para ahli psikologi
dan peneliti yang peduli dengan konstruktivisme.
Pembelajaran akan
berhasil apabila guru membuat perencanaan yang mempertimbangkan aspek siswa,
materi, urutan penyajian, proses belajar mengajar, alat peraga serta penilaian.
Perencanaan dibuat dengan maksud untuk mempermudah guru dalam memberikan
rangsangan, arahan, bimbingan dan motivasi kepada siswa agar lebih banyak terlibat
aktif dalam berbagai kegiatan seperti mengalami, melakukan, mencoba, menemukan
konsep-konsep dan rumus matematika khususnya luas bangun datar.
Berdasarkan uraian
prinsip-prinsip konstruktivisme menurut Suparno di awal tadi menunjukkan bahwa
dalam pelaksanaan pembelajaran, diperlukan suatu cara yang mengarah kepada
kegiatan yang lebih menitikberatkan kepada aktivitas siswa baik secara fisik,
mental, dan sosial. Kegiatan-kegiatan tersebut diperlukan untuk memahami
konsep-konsep matematika yang dapat mengembangkan daya nalar siswa.
Para ahli konstruktivisme mengatakan bahwa ketika
siswa mencoba menyelesaikan tugas-tugas di kelas, maka pengetahuan matematika
dikonstruksi secara aktif ( Suherman, 2001) Para ahli konstruktivisme yang lain
mengatakan bahwa dari perspektifnya konstruktivis, belajar matematika bukanlah
suatu proses “pengepakan” pengetahuan secara hati-hati, melainkan hal
mengorganisir aktivitas, di mana kegiatan ini diinterpretasikan secara luas.
Selanjutnya Cobb, mengatakan bahwa belajar matematika merupakan proses di mana
siswa secara aktif menkonstruksi pengetahuan matematika.
Para ahli konstruktivis setuju bahwa belajar
matematika melibatkan manipulasi aktif dari pemaknaan bukan hanya bilangan dan
rumus-rumus saja. Mereka menolak paham matematika dipelajari dalam satu koleksi
yang berpola linear. Setiap tahap dari pembelajaran melibatkan suatu proses
penelitian terhadap makna dan penyampaian keterampilan hafalan dengan cara yang
tidak ada jaminan bahwa siswa akan menggunakan keterampilan intelegensinya
dalam setting matematika. Lebih jauh lagi para ahli konstrutivis merekomendasi
untuk menyediakan lingkungan belajar di mana siswa dapat mencapai konsep dasar,
keterampilan algoritma, proses heuristik dan kebiasaan bekerja sama dan
berefleksi .
Dalam kaitannya dengan belajar, Cobb dkk (1992)
menguraikan bahwa “belajar dipandang sebagai proses aktif dan konstruktif di
mana siswa mencoba untuk menyelesaikan masalah yang muncul sebagaimana mereka
berpartisipasi aktif dalam latihan matematika di kelas. Confrey (1990), yang
juga banyak bicara dalam konstruktivisme menawarkan suatu powerfull
contruction dalam matematika.
Dalam mengkonstruksi pengertian matematika melalui
pengalaman, ia mengidentifikasi 10 karakteristik dari powerfull contructions
berfikir siswa. Lebih jauh ia mengatakan bahwa powerfull construction ditandai
oleh:
1.
Sebuah
struktur dengan ukuran kekonsistenan internal,
2.
Suatu
keterpaduan antar bermacam-macam konsep,
3.
Suatu
kekonvergenan di antara aneka bentuk dan konteks,
4.
Kemampuan
untuk merefleksi dan menjelaskan,
5.
Sebuah
kesinambungan sejarah,
6.
Terikat
kepada bermacam-macam system symbol,
7.
Suatu
yang cocok dengan pendapat expert (ahli),
8.
Suatu
yang potensial untuk bertindak sebagai alat untuk konstruksi lebih lanjut,
9.
Sebagai
petunjuk untuk tindakan berikutnya,
10. Suatu kemampuan untuk
menjustifikasi dan mempertahankan (Confrey, 1990: 110).
Semua ciri-ciri powerfull di atas dapat
digunakan secara efektif dalam proses belajar mengajar di kelas. Menurut
Confrey (1990), siswa-siswa matematika seringkali hanya menerapkan satu
kriteria evaluasi mereka dari yang mereka konstruksi misalkan dengan bertanya
“Apakah ini disetujui para ahli? Atau dalam istilah konstruktivis “Apakah itu
benar?” Akibatnya pengetahuan matematika menjadi terisolasi dari sisa
pengalaman mereka yang dikonstuksi dari aksi mereka di dunia dalam pola yang
spontan dan interaktif.
Oleh karena itu pandangan siswa tentang ‘kebenaran’
ketika siswa belajar matematika perlu mendapat pengawasan ahli dan masyarakat
menjadi tidak lengkap. Dalam kasus ini peranan guru dan peranan siswa lain
adalah menjustifikasi berfikirnya siswa dalam matematika. Salah satu yang mendasar
dalam pembelajaran matematika menurut konstruktivis adalah suatu pendekatan
dengan sebab tak terduga sebelumnya dengan suatu keterikatan yang cerdik dalam
mempelajari karakter, kejadian, cerita, dan implikasinya.
E.
Implementasi Pendekatan
Konstruktivisme Dalam Pembelajaran Matematika.
Implementasi
pendekatan konstruktivisme dalam pembelajaran meliputi 4 tahap yaitu :
1.
Persepsi
Siswa didorong agar mengemukakan
pengetahuan awalnya tentang konsep yang akan dibahas. Bila perlu guru memancing
dengan memberikan pertanyaan –pertanyaan problematik tentang fenomena yang
sering ditemui sehari-hari dengan mengaitkan konsep yang akan dibahas. Siswa
diberi kesempatan untuk mengkomunikasikan, mengilustrasikan pemahaman tentang
konsep itu.
2.
Eksplorasi
Siswa
diberi kesempatan untuk menyelidiki dan menemukan konsep pengumpulan,
pengorganisasian, dan penginterpretasian data dalam suatu kegiatan yang telah
dirancang guru. Kemudian secara berkelompok didiskusikan dengan kelompok lain.
Secara keseluruhan, tahap ini akan memenuhi rasa keingintahuan siswa tentang
fenomena alam di sekelilingnya.
3.
Diskusi
dan penjelasan konsep serta.
Saat siswa memberikan penjelasan
dan solusi yang didasarkan pada hasil observasinya ditambah dengan penguatan
dari guru, maka siswa membangun pemahaman baru tentang konsep yang dipelajari.
Hal ini menjadikan siswa tidak ragu–ragu lagi tentang konsepsinya.
4.
Pengembangan
dan aplikasi
Guru berusaha menciptakan iklim
pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat mengaplikasikan pemahaman
konseptualnya, baik melalui kegiatan atau pemunculan dan pemecahan
masalah–masalah yang berkaitan dengan isu–isu di lingkungannya.
F.
Evaluasi Pembelajaran
Matematika menurut Konstruktivisme
Untuk mendeskripsikan evaluasi
pembelajaran, perlu diklarifikasi seberapa bedakah antara asesmen dan evaluasi.
Menurut Webb (1992) evaluasi dalam pendidikan adalah suatu investigasi matematis
tentang nilai atau merit tentang suatu tujuan. Termasuk di dalam
evaluasi adalah sekumpulan bukti-bukti secara sistematis untuk membantu membuat
keputusan tentang (1) siswa belajar; (2) pengembangan materi; (3) program.
Wood (1987) memberikan definisi
umum tentang assesmen sebagai berikut : Assesmen dianggap sebagai penyediaan
suatu pertimbangan menyeluruh dari suatu fungsi individu di dalam melukiskan
rasa paling luas dalam berbagai bukti baik kualitatif maupun kuantitatif dan
karenanya sampai kepada pengujian keterampilan kognitif dengan teknik paper-pencil
untuk sejumlah orang. Webb and Briars (1990) menambahkan bahwa : Assesmen dalam
matematika adalah proses penentuan apakah siswa tahu. Merupakan suatu bagian
dari aktivitas pengajaran matematika, yaitu pengecekan apakah siswa memahami,
mendapatkan umpan balik dari siswa, kemudian menggunakan informasi ini untuk
membimbing pengembangan pengalaman belajarnya.
Meskipun ada perbedaan pengertian
antara evaluasi dan assesmen yang dimaksudkan disini adalah cara guru mengases (menilai)
prestasi siswa belajar matematika. Jacobsen dkk. (1985) mengidentifikasi tahap
ketiga dari pembelajaran adalah evaluasi. Di sini guru mencoba mengumpulkan
informasi yang dapat digunakan untuk menentukan apakah pembelajarannya telah sukses?
Apa yang semestinya guru lakukan untuk mengukur pemahaman konsep matematika? Dalam
memberikan assesmen pengetahuan matematika siswa, mestinya diperoleh data kemampuan
siswa dalam matematika, harus memasukkan tentang pengetahuan siswa pada konsep matematika,
prosedur matematika, dan kemampuan problem solving, reasoning, dan komunikasi, (NCTM,
1990).
Evaluasi dalam pembelajaran
matematika menggunakan pendekatan konstruktivis terjadi sepanjang proses
pembelajaran berlangsung (on going assessment). Dari awal sampai akhir guru memantau
perkembangan siswa, pemahaman siswa terhadap suatu konsep matematika, ikut membentuk
dan mengawasi proses konstruksi pengetahuan (matematika) yang dibuat siswa.
G.
Kelebihan
Pendekatan Konstruktivisme
Menurut
Nuralilah (2008:19) kelebihan-kelebihan pendekatan kostruktivisme antara lain:
1.
Pembelajaran dimulai dari konsep yang dimiliki peserta didik,
bukan konsep yang dimiliki oleh guru sehingga kegiatan peserta didik berangkat
dari pengalaman yang relevan dengan tingkat perkembangannya
2.
Kegiatan dipilih sesuai dengan minat kebutuhan anak.
3.
Memberikan kesempatan peserta didik menemukan dan menerapkan
idenya sendiri dengan tujuan supaya seluruh kegiatan akan lebih bermakna bagi
siswa.
4.
Menyajikan kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan permasalahan
yang sering ditemui dalam lingkungan peserta didik.
5.
Keterampilan sosial peserta didik akan terbina seperti saling
menghargai pendapat orang lain (toleransi) kerja sama.
6.
Peserta didik dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan
sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-idenya, sebagai
pengalaman belajar agar ia pun mampu dan terbiasa menghadapi masalah dalam
kehidupan sehari-hari.
H.
Kelemahan
Pendekatan Konstruktivisme
Adapun
kelemahan-kelemahan dari pendekatan konstruktivisme adalah sebagai berikut:
1.
Langkah yang sulit dalam menerapkan model konstruktivisme di
kelas tinggi sebab anak terbiasa dengan pembelajaran yang konvensioanal
sebelumnya,
2.
Lebih banyak waktu yang diperlukan dalam pengembangan konsep
sebab fokus lebih kepada kegiatan-kegiatan dalam menemukan konsep itu,
3.
Banyak membutuhkan alat bantu dan benda manipulatif untuk
pembelajaran, mengigat kemampuan setiap anak yang berbeda yang dirasakan belum
memahami konsep tersebut ketika diajarkan dengan alat peraga,
4.
Intensitas bimbingan dan arahan menuju konsep yang diharapkan
lebih tinggi untuk menghindari miskonsepsi tersebut,
Guru perlu mengobservasi setiap anak dengan teliti, supaya bisa
diketahui sejauh mana dia memperoleh pemahaman mengenai konsep yang dipelajari
dalam kegiatan dan proses pembelajaran dilakukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar