------->WELCOME TO MY BLOG.WWW.SYAMDNIA.BLOGSPOT.COM<-------

Kamis, 27 Juni 2013

MODEL PEMBELAJARAN KOOPERTIF THINK PAIR SHARE (TPS)



A.    Pengertian
Model pembelajaran Think Pair Share dikembangkan oleh Frank Lyman dan kawan-kawan dari Universitas Maryland tahun 1985. Think Paire Share merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif sederhana yang memberi kesempatan kepada pada untuk siswa untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain. Keunggulan model pembelajaran ini, yaitu mampu mengoptimalkan partisipasi siswa (Lie, 2004:57).

Think pair share atau berfikir, berpasangan, atau berbagi merupakan salah satu pendekatan kooperatif dimana siswa disuruh berfikir secara indivdu. Setelah itu siswa yang terdiri dari 2 orang dalam satu kelompok akan mendiskusikan penyelesaian dari masalah, kemudian kelompok atau salah satu akan mendiskusikan penyelesaian dari masalah, kemudian kelompok disuruh untuk mempresentasikan hasil diskusinya.
Think Paire Share memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa waktu lebih banyak untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu (Nurhadi dkk, 2003:66). Setelah guru menyajikan suatu topik atau setelah siswa membaca suatu tugas, selanjutnya guru meminta siswa untuk memikirkan permasalahan yang ada dalam topik/bacaan tersebut. Dalam model ini siswa untuk memikirkan suatu topik, berpasangan dengan siswa lain dan mendiskusikannya, kemudian berbagi ide dengan seluruh kelas.
Model pembelajaran ini dapat meningkatkan kemampuan komunikasi siswa, karena siswa harus saling melaporkan hasil pemikiran masing-masing dan berbagi (berdiskusi) dengan pasangannya. Selanjutnya pasangan-pasangan tersebut harus berbagi dengan seluruh kelas. Jumlah anggota kelompok yang kecil mendorong setiap anggota untuk terlibat secara aktif.

B.     Teori Belajar yang Melandasi Model Pembelajaran Kooperatif TPS
Model pembelajaran kooperatif tipe think pair share dilandasi oleh teori belajar konstruktivisme. Teori konstruktivisme menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisisnya apabila aturan-aturan itu tidak lagi sesuai. Bagi siswa agar benar-benar memahami dan menerapkan pengetahuan, mareka harus bekerja memecahkan masalah dan menemukan segala sesuatu untuk dirinya.
Menurut teori konstruktivisme, siswa sebagai pemain dan guru sebagai fasilitator. Guru mendorong siswa untuk mengembangkan potensi secara optimal. Siswa belajar bukanlah menerima paket-paket konsep yang sudah dikemas oleh guru, melainkan siswa sendiri yang mengemasnya. Bagian terpenting dalam teori konstruktivisme adalah bahwa dalam proses pembelajaran, siswalah yang harus aktif mengembangkan kemampuan mereka, bukan guru atau orang lain. Mereka harus bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya.


C.    Tahap-tahap dalam  Think Pair Share
Thing pair share ini melibatkan tiga langkah yang dikemukakan oleh Spencer Kagen, yaitu:
1.      Thinking (berfikir).
Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang berhubungan dengan pelajaran, kemudian siswa diminta untuk memikirkan pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri untuk beberapa saat.
2.      Pairing
Guru meminta siswa berpasangan dengan yang lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkannya pada tahap pertama. Interaksi pada tahap ini diharapkan dapat berbagi jawaban jika telah diajukan suatu pertanyaan atau berbagi ide jika suatu persoalan khusus telah diidentifikasi. Biasanya guru membagi waktu 4-5 menit untuk berpasangan.
3.      Sharing (berbagi)
Pada tahap akhir, guru meminta kepada pasangan untuk berbagi dengan seluruh kelas tentang apa yang telah mereka bicarakan. Ini efektif dilakukan dengan cara bergiliran berpasangan demi pasangan telah mendapat kesempatan untuk melaporkan.
            Selama kegitan tersebut, guru memantau kerja kelompok kecil untuk memastikan kegiatan berlangsung secara lancar, selanjutnya guru melakukan evaluasi terhadap hasil belajar.
Adapun karakteristik model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share antara lain:
a.       Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi,  sedang dan rendah. Sedangkan pasangan dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi dipasangkan dengan rendah, tinggi dengan sedang, dan sedang dengan rendah berdasarkan informasi yang diperoleh dari guru dan hasil tes awal.
b.      Penghargaan lebih berorientasi perorangan dari pada kelompok atau pasangan.


D.    Tahap-tahap Pelaksanaan
Langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran dengan model kooperatif Think Pair Share yang diikuti dengan kuis dikelas sebagai berikut:
1.      Kegiatan pendahuluan
a.       Guru memotivasi siswa dan mengingatkan kembali tentang materi pelajaran yang telah dipelajari sebelumnya
b.      Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai oleh siswa
2.      Guru menjelaskan materi, untuk menunjang kelancaran belajar siswa duduk dalam kelompok yang telah ditentukan sebelumnya
3.      Siswa mengerjakan soal-soal yang ada pada LKS dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Thing Pair Share dengan langkah-langkah berikut ini
a.       Thingking(berpikir)
Masing-masing soswa berpikir mengerjakan soal latihan yang ada dalam LKS.
b.      Pairing(berpasangan)
Siswa berpasangan dengan teman sekelompok (sesuai dengan yang telah ditetapkan sebelumnya) untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkan pada tahap pertama agar dapat berbagi jawaban dengan teman sekelompok.
c.       Sharing(berbagi)
Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya didepan kelas. Untuk menentukan kelompok yang akan tampil dilakukan undian dengan cara mencabut lot oleh salah seorang siswa.
4.      Guru bersama siswa membahas soal-soal yang dianggap sulit
5.      Menutup pelajaran
a.       Guru bersama siswa membuat kesimpulan tentang materi yang dipelajari
b.      Guru memberikan pekerjaan rumah
6.      Guru memberikan kuis


E.     Manfaat Think Pair Share
Kagan dalam (Atik Widarti:2007) menyatakan manfaat think pair share sebagai berikut :
1.      Para siswa menggunakan waktu yang lebih banyak untuk mengerjakan tugasnya dan untuk mendengarkan satu sama lain, ketika mereka terlibat dalam kegiatan think pair share lebih banyak siswa yang mengangkat tangan mereka untuk menjawab setelah berlatih dalam pasangannya. Para siswa mungkin mengingat secara lebih seiring penambahan waktu tunggu dan kualitas jawaban mungkin menjadi lebih baik.
2.      Para guru juga mempunyai waktu yang lebih banyak untuk berpikir ketika menggunakan think pair share. Mereka dapat berkonsentrasi mendengarkan jawaban siswa, mengamati reaksi siswa, dan mengajukan pertanyaan tingkat tinggi.

F.     Kelebihan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS

Adapun kelebihan dari model pemebelajaran ini adalah :

1.      Memungkinkan siswa untuk merumuskan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai materi yang diajarkan karena secara tidak langsung memperoleh contoh pertanyaan yang diajukan oleh guru, serta memperoleh kesempatan untuk memikirkan materi yang diajarkan.
2.      Siswa akan terlatih menerapkan konsep karena bertukar pendapat dan pemikiran dengan temannya untuk mendapatkan kesepakatan dalam memecahkan masalah.
3.      Siswa lebih aktif dalam pembelajaran karena menyelesaikan tugasnya dalam kelompok, dimana tiap kelompok hanya terdiri dari 2 orang.
4.      Siswa memperoleh kesempatan untuk mempersentasikan hasil diskusinya dengan seluruh siswa sehingga ide yang ada menyebar.
5.      Memungkinkan guru untuk lebih banyak memantau siswa dalam proses pembelajaran (Hartina, 2008: 12).


G.    Kelemahan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS
Selain memiliki beberapa kelebihan, pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share ini tentu memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan yang ada pada pembelajaran ini tidak lepas dari kelemahan yang ada pada pembelajaran kooperatif, yaitu membutuhkan waktu yang cukup lama bagi siswa dan guru sehingga sulit mencapai target kurikulum, membutuhkan kemampuan khusus guru dalam melakukan atau menerapkan model pembelajaran kooperatif dan menuntut sifat tertentu dari siswa, misalnya sifat suka bekerja sama. Meskipun demikian, kelemahan tersebut masih dapat teratasi bila guru senantiasa berusaha mempelajari dan menerapkan pembelajaran kooperatif dengan tipe Think Pair Share secara bersungguh-sungguh, serta dibarengi dengan penggunaan fasilitas pembelajaran secara optimal.
Adapun kelemahan lain dari model pembelajaran kooperatif tipe TPS adalah sangat sulit diterapkan di sekolah yang rata-rata kemampuan siswanya rendah dan waktu yang terbatas, sedangkan jumlah kelompok yang terbentuk banyak (Hartina, 2008: 12). Menurut Lie (2005: 46), kekurangan dari kelompok berpasangan (kelompok yang terdiri dari 2 orang siswa) adalah : 
1.      Banyak kelompok yang melapor dan perlu dimonitor.
2.      Lebih sedikit ide yang muncul,
3.      Tidak ada penengah jika terjadi perselisihan dalam kelompok.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar