A.
Pengertian
Model
pembelajaran Think Pair Share dikembangkan oleh Frank Lyman dan kawan-kawan
dari Universitas Maryland tahun 1985. Think Paire Share merupakan salah satu
model pembelajaran kooperatif sederhana yang memberi kesempatan kepada pada
untuk siswa untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain.
Keunggulan model pembelajaran ini, yaitu mampu mengoptimalkan partisipasi siswa
(Lie, 2004:57).
Think pair share atau berfikir, berpasangan, atau berbagi merupakan salah satu pendekatan kooperatif dimana siswa disuruh berfikir secara indivdu. Setelah itu siswa yang terdiri dari 2 orang dalam satu kelompok akan mendiskusikan penyelesaian dari masalah, kemudian kelompok atau salah satu akan mendiskusikan penyelesaian dari masalah, kemudian kelompok disuruh untuk mempresentasikan hasil diskusinya.
Think Paire Share memiliki prosedur yang
ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa waktu lebih banyak untuk
berpikir, menjawab, dan saling membantu (Nurhadi dkk, 2003:66). Setelah guru
menyajikan suatu topik atau setelah siswa membaca suatu tugas, selanjutnya guru
meminta siswa untuk memikirkan permasalahan yang ada dalam topik/bacaan
tersebut. Dalam model ini siswa untuk memikirkan suatu topik, berpasangan
dengan siswa lain dan mendiskusikannya, kemudian berbagi ide dengan seluruh
kelas.
Model pembelajaran ini dapat meningkatkan
kemampuan komunikasi siswa, karena siswa harus saling melaporkan hasil
pemikiran masing-masing dan berbagi (berdiskusi) dengan pasangannya. Selanjutnya
pasangan-pasangan tersebut harus berbagi dengan seluruh kelas. Jumlah anggota
kelompok yang kecil mendorong setiap anggota untuk terlibat secara aktif.
B. Teori
Belajar yang Melandasi Model Pembelajaran Kooperatif TPS
Model pembelajaran
kooperatif tipe think pair share dilandasi oleh teori belajar konstruktivisme.
Teori konstruktivisme menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan
mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan
aturan-aturan lama dan merevisisnya apabila aturan-aturan itu tidak lagi
sesuai. Bagi siswa agar benar-benar memahami dan menerapkan pengetahuan, mareka
harus bekerja memecahkan masalah dan menemukan segala sesuatu untuk dirinya.
Menurut teori
konstruktivisme, siswa sebagai pemain dan guru sebagai fasilitator. Guru
mendorong siswa untuk mengembangkan potensi secara optimal. Siswa belajar
bukanlah menerima paket-paket konsep yang sudah dikemas oleh guru, melainkan
siswa sendiri yang mengemasnya. Bagian terpenting dalam teori konstruktivisme
adalah bahwa dalam proses pembelajaran, siswalah yang harus aktif mengembangkan
kemampuan mereka, bukan guru atau orang lain. Mereka harus bertanggung jawab
terhadap hasil belajarnya.
C.
Tahap-tahap
dalam Think Pair Share
Thing
pair share ini melibatkan tiga langkah yang dikemukakan oleh Spencer Kagen,
yaitu:
1. Thinking
(berfikir).
Guru mengajukan pertanyaan atau isu
yang berhubungan dengan pelajaran, kemudian siswa diminta untuk memikirkan
pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri untuk beberapa saat.
2. Pairing
Guru meminta siswa berpasangan
dengan yang lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkannya pada tahap
pertama. Interaksi pada tahap ini diharapkan dapat berbagi jawaban jika telah
diajukan suatu pertanyaan atau berbagi ide jika suatu persoalan khusus telah
diidentifikasi. Biasanya guru membagi waktu 4-5 menit untuk berpasangan.
3. Sharing
(berbagi)
Pada tahap akhir, guru meminta
kepada pasangan untuk berbagi dengan seluruh kelas tentang apa yang telah
mereka bicarakan. Ini efektif dilakukan dengan cara bergiliran berpasangan demi
pasangan telah mendapat kesempatan untuk melaporkan.
Selama
kegitan tersebut, guru memantau kerja kelompok kecil untuk memastikan kegiatan
berlangsung secara lancar, selanjutnya guru melakukan evaluasi terhadap hasil
belajar.
Adapun karakteristik
model pembelajaran kooperatif tipe Think
Pair Share antara lain:
a.
Kelompok dibentuk dari
siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Sedangkan
pasangan dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi dipasangkan dengan
rendah, tinggi dengan sedang, dan sedang dengan rendah berdasarkan informasi
yang diperoleh dari guru dan hasil tes awal.
b.
Penghargaan lebih
berorientasi perorangan dari pada kelompok atau pasangan.
D.
Tahap-tahap
Pelaksanaan
Langkah-langkah
pelaksanaan pembelajaran dengan model kooperatif Think Pair Share yang diikuti
dengan kuis dikelas sebagai berikut:
1. Kegiatan
pendahuluan
a. Guru
memotivasi siswa dan mengingatkan kembali tentang materi pelajaran yang telah
dipelajari sebelumnya
b. Guru
menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai oleh siswa
2. Guru
menjelaskan materi, untuk menunjang kelancaran belajar siswa duduk dalam
kelompok yang telah ditentukan sebelumnya
3. Siswa
mengerjakan soal-soal yang ada pada LKS dengan menggunakan pembelajaran kooperatif
tipe Thing Pair Share dengan langkah-langkah berikut ini
a. Thingking(berpikir)
Masing-masing soswa berpikir
mengerjakan soal latihan yang ada dalam LKS.
b. Pairing(berpasangan)
Siswa berpasangan dengan teman
sekelompok (sesuai dengan yang telah ditetapkan sebelumnya) untuk mendiskusikan
apa yang telah dipikirkan pada tahap pertama agar dapat berbagi jawaban dengan
teman sekelompok.
c. Sharing(berbagi)
Masing-masing kelompok
mempresentasikan hasil diskusinya didepan kelas. Untuk menentukan kelompok yang
akan tampil dilakukan undian dengan cara mencabut lot oleh salah seorang siswa.
4. Guru
bersama siswa membahas soal-soal yang dianggap sulit
5. Menutup
pelajaran
a. Guru
bersama siswa membuat kesimpulan tentang materi yang dipelajari
b. Guru
memberikan pekerjaan rumah
6. Guru
memberikan kuis
E.
Manfaat Think Pair Share
Kagan dalam (Atik
Widarti:2007) menyatakan manfaat think pair share sebagai berikut :
1.
Para
siswa menggunakan waktu yang lebih banyak untuk mengerjakan tugasnya dan untuk
mendengarkan satu sama lain, ketika mereka terlibat dalam kegiatan think pair
share lebih banyak siswa yang mengangkat tangan mereka untuk menjawab setelah
berlatih dalam pasangannya. Para siswa mungkin mengingat secara lebih seiring
penambahan waktu tunggu dan kualitas jawaban mungkin menjadi lebih baik.
2.
Para
guru juga mempunyai waktu yang lebih banyak untuk berpikir ketika menggunakan
think pair share. Mereka dapat berkonsentrasi mendengarkan jawaban siswa,
mengamati reaksi siswa, dan mengajukan pertanyaan tingkat tinggi.
F. Kelebihan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe
TPS
Adapun
kelebihan dari model pemebelajaran ini adalah :
1.
Memungkinkan siswa untuk
merumuskan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai materi yang diajarkan
karena secara tidak langsung memperoleh contoh pertanyaan yang diajukan oleh
guru, serta memperoleh kesempatan untuk memikirkan materi yang diajarkan.
2.
Siswa akan terlatih
menerapkan konsep karena bertukar pendapat dan pemikiran dengan temannya untuk
mendapatkan kesepakatan dalam memecahkan masalah.
3.
Siswa lebih aktif dalam
pembelajaran karena menyelesaikan tugasnya dalam kelompok, dimana tiap kelompok
hanya terdiri dari 2 orang.
4.
Siswa memperoleh
kesempatan untuk mempersentasikan hasil diskusinya dengan seluruh siswa
sehingga ide yang ada menyebar.
5.
Memungkinkan guru untuk
lebih banyak memantau siswa dalam proses pembelajaran (Hartina, 2008: 12).
G. Kelemahan Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS
Selain memiliki
beberapa kelebihan, pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share ini tentu memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan yang ada
pada pembelajaran ini tidak lepas dari kelemahan yang ada pada pembelajaran
kooperatif, yaitu membutuhkan waktu yang cukup lama bagi siswa dan guru
sehingga sulit mencapai target kurikulum, membutuhkan kemampuan khusus guru
dalam melakukan atau menerapkan model pembelajaran kooperatif dan menuntut
sifat tertentu dari siswa, misalnya sifat suka bekerja sama. Meskipun demikian,
kelemahan tersebut masih dapat teratasi bila guru senantiasa berusaha
mempelajari dan menerapkan pembelajaran kooperatif dengan tipe Think Pair Share secara bersungguh-sungguh, serta
dibarengi dengan penggunaan fasilitas pembelajaran secara optimal.
Adapun kelemahan lain dari model
pembelajaran kooperatif tipe TPS adalah sangat sulit diterapkan di sekolah yang
rata-rata kemampuan siswanya rendah dan waktu yang terbatas, sedangkan jumlah
kelompok yang terbentuk banyak (Hartina, 2008: 12). Menurut Lie (2005: 46),
kekurangan dari kelompok berpasangan (kelompok yang terdiri dari 2 orang siswa)
adalah :
1.
Banyak kelompok yang
melapor dan perlu dimonitor.
2.
Lebih sedikit ide yang
muncul,
3.
Tidak ada penengah jika
terjadi perselisihan dalam kelompok.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar