A. Pengertian Metode Permainan
Permainan adalah hal yang paling disukai anak-anak.
Ketika bermain, anak-anak merasa gembira, tidak ada beban
apapun dalam pikiran. Suasana hati senantiasa ceria. Dalam
keceriaan inilah guru bisadengan mudah menyelipkan ajaran-ajarannya (Suparman,
2010: 169). Permainan menyediakan lingkungan belajar yang penuh dengan mainan dimana
para siswa mengikuti aturan-at
uran yang telah digariskan karenamereka tertarik untuk mendapatkan tantangan. Permainan merupakan teknik yang dapat memotivasi para siswa, khususnya untuk isi yang berulang-ulang dan membosankan (Suherman dan Sukjaya, 1990:202).
uran yang telah digariskan karenamereka tertarik untuk mendapatkan tantangan. Permainan merupakan teknik yang dapat memotivasi para siswa, khususnya untuk isi yang berulang-ulang dan membosankan (Suherman dan Sukjaya, 1990:202).
Mayke dalam Sudono
(2000: 3) mengemukakan bahwa belajar dengan bermain memberi kesempatan kepada anak
untuk memanipulasi, mengulang-ulang, menemukan sendiri, bereksplorasi,
mempraktikkan, dan mendapatkan bermacam-macam konsep serta pengertian yang
tidak terhitung banyaknya. Disinilah proses pembelajaran terjadi, melalui
permainan memberikan pengalaman belajar pada peserta didik.
Metode permainan dalam
pembelajaran matematika adalah metode belajar dengan
melakukan kegiatan yang menggembirakan yang dapat menunjang tercapainya tujuan
instruksional matematika yang menyangkut aspek kognitif, psikomotorik, atau
efektif.
Permainan yang mengandung nilai matematika dapat meningkatkan
keterampilan, penanaman konsep, pemahaman dan pemantapannya, meningkatkan kemampuan
menemukan, memecahkan masalah, dan lain-lain.
Metode permainan sama dengan
metode-metode lain yang memerlukan perumusan tujuan instruksional yang jelas,
penilaian topik atau subtopik, perincian kegiatan belajar mengajar, dan
lain-lain. Selanjutnya hindari permainan yang bersifat teka-teki atau yang
tidak ada nilai matematikanya.
B. Teori
yang mendasari permainan
Beragam teori yang
mendasari berkembangnya kegiatan bermain dan permaninan
diantaranya adalah teori kognitif Jean Piaget. Menurut Piaget, sejalan
dengan perkembangan kognisinya kegiatan bermain seorang anak mengalami
perubahan dari tahap sensori motor, bermain khayal sampai bermain
kepada sosial yang disertai aturan permainan (Tedjasaputra, 2005: 8).
Saat bermain anak tidak belajar sesuatu yang baru tetapi mempraktekannya sesuai yang telah dipelajari sebelumnya. Tahapan perkembangan bermain berdasarkan perkembangan
kognitif anak menurut Piaget dibedakan menjadi:
1.
Tahap sensory motor play ( 3 bulan – 2 tahun)
Bermain dimulai
pada periode perkembangan kognitif sensorimotor sejak usia 3-4 bulan kegiatan
pengulangan yang dilakukananak lebih terkoordinasi. Pada usia 7-11 bulan
kegiatan pengulangan yang dilakukan anak sudah disertai variasi, dan pada usia
18 bulan mulai ada percobaan-percobaan aktif pada kegiatan bermain anak.
2.
Tahap
symbolic
atau make believe play (
2- 7 tahun)
Tahap ini
merupakan ciri periode pra operasional yang terjadiantara usia 2-7 tahun.
Tahapan ini ditandai dengan bermain khayal dan bermain pura-pura, lebih banyak
bertanya dan menjawab pertanyaan, serta mulai dapat menggunakan berbagai benda
sebagai symbol atau representasi benda lain.
3.
Tahap social play games with rules
(8- 11 tahun)
Kegiatan bermain
anak lebih banyak dikendalikan oleh aturan permainan.
4.
Tahap games
with rules & sports ( 11 tahun ke atas)
Pada tahap ini,
meskipun aturan permainan yang diberlakukan lebih ketat dan kaku, anak tetap
menikmati kegiatan bermain bahkan terpacu untuk mencapai hasil terbaik (Tedjasaputra,
2005: 24-27)
C. Tujuan
metode permaianan
Permainan matematika dapat diarahkan pada salah satu tujuan
pembelajaran berikut.
a.
Mengembangkan
konsep
b.
Menyediakan
latihan dan pengalaman penguatan (reinforcement experiences)
c.
Mengembangkan
kemampuan perceptual
d.
Memberikan
kesempatan berpikir logis dan penyelesaian masalah
D. Syarat-syarat
metode permainan
Supaya dengan permainan matematika anak dapat mempelajari
dan kemudian memahami matematika, maka beberapa syarat yang perlu diperhatikan
dalam menyusun permainan matematika adalah sebagai berikut:
1.
Menarik
Permainan
yang menarik pada umumnya disenangi oleh anakanak, sehingga harus direncanakan
suatu permainan yang benar-benar menarik apa pada usianya.
2.
Aman
Dalam
permainan matematika janganlah menggunakan barang atau alat yang dapat
membahayakan anak, seperti pisau, jarum dan sebagainya. Demikian dalam
permainan hindari kegiatan, tindakan atau perbuatan yang dianggap membahayakan,
seperti memukul, menendang dan sejenisnya.
3.
Sesuai
dengan keadaan anak
Rancanglah
permainan yang sesuai dengan keadaan anak, misalnya jangan menggunakan alat
yang besar dan berat agar anak mudah melakukannya.
4.
Sesuai
dengan tingkat kesiapan intelektual anak
Ingatlah
bahwa permainan yang tidak sesuai dengan kemampuan pikir anak, akan dijauhi dan
tidak disenangi oleh anak-anak.
5.
Bersifat
konstruktif
Hendaklah
dipilih permainan yang bersifat konstruktif, membangun pola pikir dan
menumbuhkan sikap positif pada anak.
6.
Mudah
dilakukan
Dalam
merencanakan permainan hendaklah aturan permainan dibuat sesederhana mungkin
sehingga anak tidak mengalami kesulitan dalam melaksanakannya.
7.
Mudah
dibuat
Usahakan
agar permainan itu mudah dibuat, dan jika mungkin anak-anak dapat membuatnya
sendiri dan memainkan di luar kelas.
E. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penerapan metode permainan
1.
Pilih
permainan sesuai dengan kebutuhan kelas.
Ciri
utama adalah bahwa permainan harus memberikan konstribusi yang khas dalam
mempelajari matematika, yang tidak dapat diperoleh dengan bahan atau teknik
yang lain. Bahan yang digunakan harus berhubungan dengan apa yang dipelajari di
kelas, dan permainan apapun yang dipilih harus memuat keterampilan dan konsep
yang penting. Permainan haruslah ditekankan pada pembelajaran konsep atau
keterampilan daripada kesenangan bermain itu sendiri.
2.
Laksanakan
permainan pada waktu yang tepat.
Jika
permainan digunakan untuk membantu mempelajari matematika, permainan itu harus
dilakukan pada saat ketika ide atau keterampilan diajarkan. Tetapi guru-guru
sering lebih senang menggunakan permainan setelah selesai membicarakan suatu
topik, pada hari sebelum liburan, atau pada sore hari pada saat anak di luar
kelas, atau anak di suruh memainkannya di rumah masing-masing, atau pada
kesempatan-kesempatan luang lain. Biasanya permainan matematika memerlukan
waktu yang tidak terlalu lama sehingga anak tidak mudah bosan.
3.
Permainan
harus disusun sedemikian sehingga semua anak dapat turut serta bermain.
Walaupun
mungkin hanya seorang yang memainkannya namun setiap anggota kelompok harus
bertanggung jawab terhadap penyelesaiannya. Permainan jangan sampai membuat
seseorang yang sebenarnya tidak dapat menyelesaikan persoalan yang dihadapi
merasa kesulitan.
4.
Permainan
harus direncanakan dan disusun dengan hati-hati dan seksama
Jelaskan aturan permainannya kepada
anak, agar mereka dapat memainkannya dan memahami konsep yang dipelajari
melalui permainan itu, jangan sampai tujuan permainan tidak tercapai karena
aturan yang dibuat tidak jelas.
5.
Tekankan
tanggung jawab mempelajari sesuatu dari permainan itu.
Penekanan
tanggung jawab itu dapat dinyatakan dalam tindak lanjut kegiatan permainan,
seperti misalnya dengan diskusi, membaca, atau tes.
F. Kelebihan metode permainan
1. Melatih
siswa untuk mendramatisasikan sesuatu serta melatih keberanian
2. Dapat
menarik perhatian siswa sehingga suasana kelas menjadi hidup.
3.
Dapat menimbulkan minat dan motivasi siswa.
4. Siswa
dapat menghayati suatu peristiwa sehingga mudah mengambil kesimpulan berdasarkan
penghayatan sendiri.
5. Siswa
dilatih untuk menyusun pikirannya dengan teratur.
6.
Siswa menjadi aktif, berpikir logis dan kritis.
7.
Terjadinya kepuasan pada dirinya
8.
Konsep–konsep matematika akan lebih mantap dapat
dipahami
9. Kemampuan menemukan dan memecahkan masalah meningkat.
G. Kelemahan metode permainan
1. Tidak
semua topik dapat disajikan melalui permainan.
2. Memerlukan
banyak waktu
3. Mengganggu
ketenangan belajar kelas-kelas lain disekitarnya.
4.
Pengajaran mungkin akan terganggu dan berakibat
negatif bila diadakan aturan kalah menang, serta mungkin juga terjadi
pertengkaran.
H. Contoh
permainan matematika dan kegunaannya
1. Permainan
lagu “Membuat lingkaran”
Permainan ini selain mengajak siswa
belajar berhitung, juga untuk melatih kekompakan.
2. Siswa berlatih hafal fakta dasar melalui permainan
kartu (kartu berangka).
3. Permainan
bujursangkar ajaib berbagai ragam.
Permainan
ini dapat meningkatkan keterampilan berhitung dan pemecahan masalah.
4. Permainan
honai
Permainan
ini dapat dipakai untuk menerangkan konsep relasi dan fungsi
5. Permainan
kuartet
6. Jarimatika
Jarimatika
berasal dari kata jari dan Matematika. Jarimatika adalah salah satu metode
berhitung kabataku (kali,bagi, tambah,kurang) menggunakan jari dan ruas-ruas
jari tangan. Metode ini banyak memberikan manfaat untuk anak-anak dalam proses
pembelajaran Matematika.
7. Maze
Game
Adalah sebuah metode pembelajaran matematika dengan
menggunakan media peta tiruan. Manfaat: Selain belajar menghitung, anak juga
belajar menggambar peta, arah mata angin, dan bentuk-bentuk bangun.
minta daftar pustakanya dong buat sumber referensi yang syarat-syarat metode permainannya
BalasHapusmaaf, tp file daftar pustakanya gak ketemu2. file isi sama pustakanya aku bedain, jadi yg ketemu cuma bagian isinya aja
Hapus