------->WELCOME TO MY BLOG.WWW.SYAMDNIA.BLOGSPOT.COM<-------

Selasa, 19 November 2013

ETIKA BISNIS



A.    Pengertian Etika Bisnis
Kata etika berasal dari bahasa Yunani Kuno “ethikos” yang berarti timbul dari kebiasaan. Etika mencakup analisis dan penerapan suatu konsep seperti misalnya baik,buruk, benar, salah dan tanggung jawab.
Dalam ilmu ekonomi, bisnis adalah suatu organisasi yang menjual barang atau jasa kepada konsumen atau bisnis lainnya, untuk mendapatkan laba. Namun, secara historis kata bisnis dari bahasa Inggrisbusiness, dari kata dasar busy yang berarti “sibuk” dalam konteks individu, ko

Kamis, 27 Juni 2013

MODEL PEMBELAJARAN KOOPERTIF THINK PAIR SHARE (TPS)



A.    Pengertian
Model pembelajaran Think Pair Share dikembangkan oleh Frank Lyman dan kawan-kawan dari Universitas Maryland tahun 1985. Think Paire Share merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif sederhana yang memberi kesempatan kepada pada untuk siswa untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain. Keunggulan model pembelajaran ini, yaitu mampu mengoptimalkan partisipasi siswa (Lie, 2004:57).

Jumat, 21 Juni 2013

KETERAMPILAN MENGELOLA KELAS


A.    PENGERTIAN PENGELOLAAN KELAS
Pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses pembelajaran, seperti penghentian perilaku siswa yang memindahkan perhatian kelas, memberikan ganjaran bagi siswa yang tepat waktu dalam menyelesaikan tugas atau penetapan norma kelompok yang produktif.

METODE PERMAINAN



A.    Pengertian Metode Permainan

Permainan adalah hal yang paling disukai anak-anak. Ketika bermain, anak-anak merasa gembira, tidak ada beban apapun dalam pikiran. Suasana hati senantiasa ceria. Dalam keceriaan inilah guru bisadengan mudah menyelipkan ajaran-ajarannya (Suparman, 2010: 169). Permainan menyediakan lingkungan belajar yang penuh dengan mainan dimana para siswa mengikuti aturan-at

Rabu, 19 Juni 2013

PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME



A.    Pengertian Pendekatan Konstruktivisme

Pendekatan konstruktivisme adalah sebuah pendekatan yang pelaksanaannya memposisikan siswa sebagai individu yang aktif mengkonstruksikan sendiri pengetahuan yang berasal dari pengalaman-pengalamannya.
Menurut Saefudin (2008), pendekatan konstruktivisme adalah pendekatan pembelajaran yang mengajak siswa untuk berpikir dan mengkonstruksi dalam memecahkan suatu permasalahan secara bersama-

KETERAMPILAN DASAR MENGADAKAN VARIASI


Salah satu kemampuan dasar mengajar yang harus benar-benar dikuasai oleh guru adalah, keterampilan mengadakan variasi dalam kegiatan pembelajaran. Keterampilan ini memegang peranan yang tidak kalah pentingnya dengan keterampilan mengajar lainnya.
A.    Pengertian variasi
Berikut adalah beberapa pengertian variasi menurut para ahli:
1.      Menurut Soetomo(1993: 100), pemberian variasi dalam interaksi belajar mengajar dapat diartikan sebagai perubahan penjajaran dari yang satu ke orang lain dengan tujuan menghilangkan kebosanan

Jumat, 19 April 2013

PERMASALAHAN-PERMASALAHAN PENDIDIKAN


A.    Permasalahan pokok pendidikan
1.      Pemerataan
Idealnya, diharapkan pendidikan nasional dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya bagi seluruh warga negara Indonesia untuk mempeoleh pendidikan. Namun kenyataannya masih banyak warga negara khususnya warga usia sekolah tidak tertampung di lembaga pendidikan (sekolah) yang ada. Permasalahannya ialah bagaimana sistem pendidikan dikelola sehingga dapat menyediakan kesempatan seluas-luasnya bagi warga negara untuk memperoleh pendidikan.
Dengan memberi kesempatan yang seluas-luasnya itu diharapkan pendidikan akan semakin merata, karena merata dalam arti yang sesungguhnya tidak mungkin dicapai. Hal ini antara lain disebabkan karena peraturan perundang-undangan tentang wajib belajar tidak diikuti dengan sanksi bagi yang tidak mengikutinya, karena sistem pendidikan itu sendiri belum memungkinkan untuk itu.

2.      Mutu
Mutu pendidikan umumnya dilihat dari hasil (output) pendidikan itu sendiri. Kriteria untuk hasil ini adalah kadar ketercapaian tujuan pendidikan itu sendiri. Kadar ketercapaian tujuan tersebut tergantung pada unit/lembaga yang menyelenggarakan pendidikan tersebut. Unit terkecil yang akan menentukan itu adalah guru mata pelajaran yang bersangkutan.
Permasalahan mutu pendidikan sukar diketahui dalam arti yang sesungguhnya. Apalagi bila sipenentu dilakukan oleh orang yang berbeda dengan kriteria yang berbeda pula, maka gambar permasalahan mutu itu sesuatu yang misteri.
Dengan demikian bisa terjadi bahwa disuatu sekolah mutu pendidikan itu tidak dipandang sebagai masalah karena antara mutu yang real dengan yang ideal dapat diatur.

3.      Efisiensi/Efektivitas
a.       Efisiensi
Pendidikan dikatakan efisiensi (ideal) ialah bila penyelenggaraan pendidikan tersebut hemat waktu, tenaga, dan biaya tetapi produktivitas (hasil) optimal dan tepat sasaran. Kadar efisiensi itu tergantung pada pemberdayaan sumberdaya tersebut.
Kadar efisiensi di lapangan (realita) ditentukan oleh keadaan penyalahgunaan ketiga kriteria tersebut. Bila penyelenggaraan pendidikan tidak/kurang mengfungsikan tenaga yang ada, sementara waktu dimanfaatkan sedemikian rupa sehingga banyak yang terbuang sia-sia, apalagi biaya yang dikeluarkan banyak maka kadar efisiensi rendah.
b.      Efektivitas
Pendidikan dikatakan efektif ialah bila hasil yang dicapai sesuai dengan rencana/ program yang dibuat sebelumnya (tepat guna). Bila rencana mengajar yang dibuat oleh guru atau silabus yang dibuat ole dosen yang mengajar/ memberi kuliah terlaksana secara utuh dengan sempurna, maka pelaksanaan perkuliahan tersebut dikatakn efektif.
Sebaliknya, dikatakn kurang efektif bila kompenen-komponen rencana tidak terlaksana dengan sempurna. Misalnya, tujuan tidak tercapai semua, materi tidak tersajikan semua, strategi belajar mengajar tidak tepat, evaluasi tidak dilakukan sesuai rencana.

4.      Relevansi
Pendidikan dikatakn relevan ialah bila sistem pendidikan dapat menghasilkan output (keluaran) yang sesuai dengan kebutuhan pemangunan. Pendidikan dikatakan tidak atau kurang relevan ialah bila tingkat kesesuaian tersebut tidak ada atau kurang. Kadar permasalahan ditentukan oleh tingkat kesesuaian antara sistem pendidikan dengan kebutuhan masyarakat pembangunan tersebut. Bila tingkat kesesuaian tinggi maka pendidikan dikatakan relevan.

B.     Faktor yang mempengaruhi berkembangnya permasalahan pendidikan
1.      Perkembangan IPTEK dan Seni
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada saat ini berdampak pada pendidikan di Indonesia. Ketidaksiapan bangsa menerima perubahan zaman membawa perubahan tehadap mental dan keadaan negara ini. Bekembangnya ilmu pengetahuan telah membentuk teknologi baru dalam segala bidang, baik bidang social, ekonomi, hokum, pertanian dan lain sebagainya.
Sebagai negara berkembang Indonesia dihadapkan kepada tantangan dunia global. Dimana segala sesuatu dapat saja berjalan dengan bebas. Keadaan seperti ini akan sangat mempengaruhi keadaan pendidikan di Indonesia. Penemuan teknologi baru di dalam dunia pendidikan, menuntut Indonesia melakukan reformasi dalam bidang pendidikan. Pelaksanaan reformasi tidaklah mudah, hal ini sangat menuntut kesiapan SDM Indonesia untuk menjalankannya.


2.      Laju Pertumbuhan Penduduk
Laju pertumbuhan yang sangat pesat akan berpengaruh tehadap masalah pemerataan serta mutu dan relevansi pendidikan. Pertumbuhan penduduk ini akan berdampak pada jumlah peserta didik. Semakin besar jumlah pertumbuhan penduduk, maka semakin banyak dibutuhkan sekolah-sekolah unutk menampungnya. Jika daya tampung suatu sekolah tidak memadai, maka akan banyak peserta didik yang terlantar atau tidak bersekolah. Hal ini akan menimbulkan masalah pemerataan pendidikan.
Tetapi apabila jumlah dan daya tampung suatu sekolah dipaksakan, maka akan terjadi ketidakseimbangan antara tenaga pengajar dengan peserta didik. Jika keadaan ini dipertahankan, maka mutu dan relevansi pebdidikan tidak akan dapat dicapai dengan baik.
Sebagai negara yang berbentuk kepulauan, Indonesia dihadapkan kepada masalah penyebaran penduduk yang tidak merata. Tidak heran jika perencanaan, sarana dan prasarana pendidikan di suatu daerah terpencil tidak terkoordinir dengan baik. Hal ini diakibatkan karena lemahnya kontrol pemerintah pusat terhadap daerah tersebut. Keadaan seperti ini adalah masalah lainnya dalam bidang pendidikan.
3.      Aspirasi Masyarakat
Kecenderungan aspirasi masyarakat semakin meningkat dari tahun ke tahun sudah terlihat. Peningkatan aspirasi masyarakat terhadap pendidikan ini akan mengakibatkan anak-anak akan menyerbu dan membanjiri sekolah (lembaga pendidikan). Kondisi seperti ini akan menimbulkan berbagai masalah seperti sistem seleksi siswa/ mahasiswa baru, ratio guru-siswa, waktu belajar, permasalahan akan terus berkembang karena saling kait.
4.      Keterbelakangan budaya dan sarana
Keterbelakangan budaya dan sarana kehidupan sudah jelas akan menimbulkan masalah bagi pendidikan. Permasalahannya antara lain, bagaimana menyadarkan mereka akan keterbelakangan/ ketinggalannya, bagaimana cara menyediakan sarana kehidupan yang lebih baik, khususnya bagaiman sistem pendidikan dapat menjangkau dan melibatkan mereka sehingga mereka keluar dari keterbelakangan tersebut.

LINGKUNGAN PENDIDIKAN


A.    Pengertian Lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang mempengaruhi individu. Sesuatu yang mempengaruhi itu mungkin berasal dari dalam individu (internal environment) dan mungkin pula berasal dari luar diri individu (external environment).
Menurut Ngalis Purwanto, lingkungan (environment) adalah meliputi semua kondisi dalam dunia ini yang dengan cara tertentu mempengaruhi tingkah laku kita, pertumbuhan, perkembangan atau life processes kita. Sedangkan menurut Wasty Soemanto, lingkungan mencakup segala material dan stimuli didalam dan diluar individu, baik yang bersifat fisiologis, psikologis, maupun sosial kultural.
Lingkungan bagi seseorang sebagai individu adalah segala sesuatu yang berasal dari dalam dirinya (fisik dan psikis) dan sesuatu yang berada diluar dirinya seperti alam fisika (non manusia) dan manusia.
B.     Jenis Lingkungan Pendidikan
1.      Keluarga
Keluarga merupakan pengelompokan primer yang terdiri dari sejumlah kecil orang yang mempunyai hubungan pertalian darah. Keluarga itu dapat berbentuk nukleus family (keluarga inti) ataupun keluarga yang diperluas. Keluarga dikenal sebagai lingkungan pendidikan yang pertama dan utama sehingga menjadi pusat pendidikan yang penting dan menentukan.
Fungsi lembaga pendidikan keluarga menurut Fuad Ichsan (1995), yaitu:
a.       Merupakan pengalaman pertama bagi masa kanak-kanak
b.      Pendidikan di lingkungan keluarga dapat menjamin kehidupan emosional anak untuk tumbuh dan berkembang.
c.       Di dalam kelurga akan terbentuk pendidikan moral
d.      Di dalam keluarga akan tumbuh sikap tolong menolong, tenggang rasa, sehingga tumbuhlah kehidupan keluarga yang damai dan sejahtera.
e.       Keluarga merupakan lembaga yang berperan meletakkan dasar-dasar pendidikan agama.
f.       Keluarga lebih cenderung untuk menciptakan kondisi yang dapat menumbuh-kembangkan inisiatif, kreatifitas, kehendak, emosi, tanggung jawab, keterampilan, dan kegiatan lain.

2.      Sekolah
Jalur pendidikan sekolah adalah merupakan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah melalui kegiatan belajar mengajar dengan organisasi yang tersusun rapi, terencana, berjenjang, dan berkesinambungan. Tugas sekolah sangat penting dalam menyiapkan anak untuk kehidupan masyarakat. Sekolah perlu dirancang dan dikelola dengan baik, harus diupayakan dengan sedemikian rupa agar mencerminkan masyarakat Indonesia dimasa depan.
Sekolah sifatnya formal. Sekolah diharapkan mampu melaksanakan fungsi pendidikan secara optimal, dalam rangka mencapai tujuan pembangunan nasional. Berikut adalah fungsi pendidikan formal:
a.       Sekolah harus mampu menumbuh-kembangkan anak sebagai makhluk individu melalui pembekalan semua bidang studi.
b.      Sekolah harus mampu menumbuh-kembangkan anak sebagai makhluk sosial.
c.       Sekolah harus berfungsi sebagai pembinaan watak anak melalui bidang studi yang relevan
d.      Sekolah harus dapat menumbuh-kembangkan anak sebagai makhluk yang religius dan mampu menjadi pemeluk agama yang baik.
e.       Pendidikan formal harus menghasilkan tenaga kerja yang berkualitas yang mampu mensejahterakan dirinya dan bersama orang lain mampu mensejahterakan masyarakat, bangsa dan negara.
f.       Sekolah berfungsi konservatif, inovatif,  dan selektif dalam mempertahankan kebudayaan yang ada, melakukan pembaharuan, dan melayani perbedaan individu anak dalam proses pendidikan.

3.      Masyarakat
Masyarakat adalah salah satu lingkungan pendidikan yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan pribadi seseorang. Kaitan antara masyarakat dan pendidikan dapat ditinjau dari beberapa segi, yakni:
a.       Masyarakat adalah sebagai penyelenggara pendidikan, baik yang dilembagakan maupun yang tidak delembagakan.
b.      Lembaga-lembaga kemasyarakat dan atau kelompok sosial di masyarakat, baik langsung maupun tak langsung ikut mempunyai peran dan fungsi edukatif.
c.       Dalam masyarakat tersedia berbagai sumber belajar baik yang dirancang maupun dimanfaatkan.

Peran dan fungsi pendidikan kemasyarakatan dapat dikemukakan sebagai berikut:
a.       Memberikan kemampuan profesional untuk mengembangkan kariernya
b.      Memberikan kemampuan teknis akademik dalam suatu sistem pendidikan nasional
c.       Ikut serta dalam mengembangkan kemampuan kehidupan beragama
d.      Mengembangkan kemampuan kehidupan sosial budaya
e.       Mengembangkan keahlian dan keterampilan melalui sistem magang untuk menjadi ahli bangunan, montir dan sebagainya.
C.    Fungsi Lingkungan Pendidikan
Fungsi suatu lingkungan tergantung pada jenis lingkungan tersebut. Sekolah sebagai lembaga pendidikan berfungsi sebagai: 1) pusat pendidikan formal, 2) pusat kebudayaan, 3)lembaga sosial. Keluarga sebagai lingkungan pendidikan berfungsi (kedalam) antara lain memberikan dasar-dasar pendidikan pada anggota keluarga (terutama anak-anak). Fungsi keluarnya antara lain membantu sekolah dan masyarakat dalam hal penyelenggaraan pendidikan formal.
Masyarakat sebagai lembaga pendidikan non formal antara lain berfungsi membantu sekolah dan keluarga. Warga masyarakat yang tidak dapat kesempatan memperoleh pendidikan formal di sekolah dapat ditampung pada lembaga pendidikan non formal yang ada di lingkungan masyarakat.

D.    Pengaruh timbal balik antara ketiga lingkungan pendidikan terhadap perkembangan peserta didik.
Setiap pusat pendidikan dapat berpeluang memberi konstribusi yang besar dalam ketiga kegiatan pendidikan, yakni:
1.      Pembimbingan dalam upaya pemantapan pribadi yang berbudaya
2.      Pengajaran dalam upaya penguasaan pengetahuan
3.      Pelatihan dalam upaya pemahiran keterampilan
Setiap pusat pendidikan perlu ditingkatkan konstribusinya terhadap perkembangan peserta didik. Di lingkungan keluarga telah diupayakan berbagai hal, seperti: perbaikan gizi, permainan edukatif, penyuluhan orangtua dan sebagainya. Di lingkungan sekolah diupayakan berbagai hal yang lebih mendekatkan sekolah dengan orangtuasiswa, dan sekolah juga mengupayakan agar program yang erat kaitannya dengan masyarakat sekitarnya.
Akhirnya lingkungan masyarakat mengusahakan berbagai kegiatan atau program yang menunjang/melengkapi program keluarga dan sekolah. Dengan konstribusi tripusat pendidikan yang saling memperkuat dan melengkapi itu akan memberi peluang mewujudkan sumber manusia terdidik yang bermutu.

LANDASAN PENDIDIKAN


Landasan pendidikan secara singkat dapat dikatakan sebagai tempat bertumpu atau dasar dalam melakukan analisis kritis terhadap kaidah-kaidah dan kenyataan fakta tentang kebijakan dan praktik pendidikan. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa landasan pendidikan merupakan dasar bagi upaya pengembangan kependidikan dalam segala aspeknya. Terdapat beberapa landasan pendidikan, yaitu:
1.      Landasan Filosofis
Landasan filosofis merupakan landasan yang berkaitan dengan makna atau hakekat pendidikan, yang berusaha menelaah masalah-masalah pokok dalam pendidikan. Sehubungan dengan itu, landasan filosofis merupakan landasan yang berdasarkan atau bersifat filsafat.
Antara filsafat dengan pendidikan terdapat kaitan yang sangat erat. Filsafat mencoba merumuskan citra tentang manusia dan masyarakat. Sedangkan pendidikan berusaha mewujudkan citra tersebut. Rumusan tentang harkat dan martabat manusia serta masyarakatnya di Indonesia dilandasi oleh filsafat yang dianut oleh bangsa Indonesia, yakni Pancasila.
Ø  Pancasila sebagai Landasan Filosofis Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas)
Pasal 2 UU RI No. 2 Tahun 1989 menetapkan bahwa pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 dan menegaskan bahwa pembangunan nasional termasuk pendidikan adalah pengamalan Pancasila. Hal tersebut berarti bahwa Pancasila adalah jiwa seluruh rakyat Indonesia, kepribadian bangsa Indonesia, pandangan hidup bangsa Indonesia, dan dasar negara Republik Indonesia.
Pancasila adalah sumber sistem nilai dalam pendidikan. Sehingga dengan demikian dapat dikatakan bahwa Pancasila adalah landasan filosofis dalam segala kebijakan dan praktik pendidikan.
2.      Landasan Sosiologis
Kegiatan pendidikan merupakan suatu proses interaksi antara dua individu, bahkan dua generasi yang memungkinkan generasi muda memperkembangkan diri. Dengan meningkatkan perhatian sosiologi pada kegiatan pendidikan tersebut, maka lahirlah cabang sosiologi pendidikan yang merupakan analisis ilmiah tentang proses sosial dan pola-pola interaksi sosial didalam sistem pendidikan.
Ø  Masyarakat Indonesia sebagai Landasan Sosiologis Sisdiknas
Masyarakat Indonesia semenjak kemerdekaan, utamanya pada pemerintahan Orde Baru, telah mengalami banyak perubahan. Sampai saat ini masyarakat Indonesia ditandai oleh dua ciri yang unik. Secara horizontal ditandai oleh adanya kesatuan sosial atau komunitas berdasarkan perbedaan suku, agama, adat-istiadat, dan kedaerahan. Secara vertikal ditandai oleh adanya perbedaan pola kehidupan antara lapisan atas, menengah, dan bawah.
Menurut Ardhan (1986) secara sosiologi perlu dikaji empat bidang. Pertama, hubungan sistem pendidikan dengan berbagai aspek masyarakat. Kedua, hubungan kemanusiaan di sekolah. Ketiga, pengaruh sekolah terhadap prilaku anggotanya. Keempat, interaksi antara anggota kelompok sosial sekolah dengan kelompok lain dalam komunitasnya.
3.      Landasan Kultural
Kebudayaan adalah hasil cipta dan karya manusia berupa norma-norma, nilai-nilai, kepercayaan, tingkah laku, dan teknologi yang dipelajari dan dimiliki oleh anggota masyarakat tertentu.
Kebudayaan dan pendidikan mempunyai hubungan timbal balik, sebab kebudayaan dapat dilestarikan/dikembangkan dengan jalan mewariskan kebudayaan dari generasi ke generasi dengan jalan pendidikan.
Ø  Kebudayaan Nasional sebagai Landasan Kultural Sisdiknas
Masyarakat Indonesia sebagai pendukung kebudayaan adalah masyarakat yang majemuk. Oleh karena itu, kebudayaan Indonesia tersebut lebih tepat disebut sebagai kebudayaan Nusantara yang beragam. Puncak-puncak kebudayaan Nusantara itu ada yang diterima secara nasional disebut kebudayaan nasional.
Pengembangan pendidikan dalam budaya nasional difokuskan kepada upaya (1) melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai luhur budaya bangsa, (2) mengembangkan nilai-nilai budaya dan pranata sosial dalam menunjang proses pembangunan nasional, dan (3) merancang kegairahan masyarakat untuk menumbuhkan kreativitas kearah pembaruan dalam usaha pendidikan yang tanpa mengabaikan kepribadian bangsa.
4.      Landasan Psikologis
Pendidikan selalu melibatkan aspek kejiwaan manusia, sehingga landasan psikologis merupakan salah satu landasan yang penting dalam bidang pendidikan. Pemahaman peserta didik, utamanya yang berkaitan dengan aspek kejiwaan, merupakan salah satu kunci keberhasilan pendidikan. Kajian psikologis yang erat hubungannya dengan pendidikan adalah yang berkaitan dengan kecerdasan, berfikir, dan belajar.
Ø  Perkembangan Peserta Didik sebagai Landasan Psikologis
Peserta didik selalu berada dalam proses perubahan, baik karena pertumbuhan maupun karena perkembangan. Salah satu aspek dari pengembangan manusia seutuhnya adalah yang berkaitan dengan perkembangan kepribadian. Dalam hal pengembangan kepribadian, kepribadian itu mencakup aspek behavioral dan aspek motivasional. Selain itu, kepribadian harus dipandang sebagai sistem psikofisik, yakni merupakan kesatuan antara berbagai keadaan kondisi fisik dengan kondisi rohani yang saling mempengaruhi yang pada gilirannya menghasilkan pribadi yang utuh.
5.      Landasan Ilmiah dan Teknologi
Pendidikan dengan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (ipteks) mempunyai kaitan yang sangat erat. Hal tersebut dikarenakan ipteks menjadi bagian utama dalam pendidikan, dengan kata lain pendidikan berperan sangat penting dalam pewarisan dan pengembangan ipteks.
Ø  IPTEKS sebagai Landasan Ilmiah dan Teknologi
Ipteks merupakan salah satu hasil dari usaha manusia untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, yang telah dimulai pada permulaan kehidupan manusia. Lembaga pendidikan, utamanya pendidikan jalur sekolah, haruslah mampu mengakomodasi dan mengantisipasi perkembangan ipteks. Peserta didik sebaiknya sedini mungkin mengalami sosialisasi ilmiah meskipun dalam bentuk yang masih sederhana agar dapat meletakkan dasar terbentuknya masyarakat yang sadar ipteks.
6.      Legalistik/hukum
Pendidikan merupakan peristiwa multidimensi, bersangkut-paut dengan berbagai aspek kehidupan manusia dan masyarakat. Kebijakan, penyelenggaraan, dan pengembangan pendidikan dalam masyarakat perlu disalurkan oleh titik tumpu legistik yang jelas dan syah.
Ø  UU dan Peraturan sebagai Landasan Hukum
Melalui perundang-undangan dan peraturan yang berlaku, pihak yang terkait dengan pendidikan dapat mengetahui hak dan kewajibannya dalam penyelenggaraan pendidikan.
Selain itu, dengan landasan legalistik dapat dikaji posisi, fungsi, dan permasalahan pendidikan dalam segala aspek kehidupan. Oleh karena itu, tata urut berbagai produk peraturan perundang-undangan perlu diketahui dalam rangka pengambilan kebijakan dan penyelenggaraan praktik pendidikan agar penyimpangan diketahui sedini mungkin.
7.      Spiritual
Landasan spiritual berhubungan dengan agama dan kepercayaan. Landasan spiritual pendidikan di Indonesia antara lain sebagai berikut.
a.       Pancasila Sila Pertama Ketuhanan Yang Maha Esa
b.      QS. AL Mujadalah 11:
“Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
c.       Hadits Nabi :
“Menuntut ilmu sangat diwajibkan kepada orang muslim dan muslimat.
8.      Cinta Sebagai Landasan Pendidikan
Cinta adalah perasaan manusia yang tumbuh dengan keinginan untuk menyayangi dan memiliki sesuatu. Orang yang mencintai sesuatu akan berusaha dengan segenap daya dan upaya untuk mendapatkan apa yang dicintainya itu. Cinta adalah  sifat Tuhan Yang Maha Esa yang dianugerahkan kepada manusia untuk saling mencintai di atas bumi ini.
Cinta sebagai landasan pendidikan dimaksudkan untuk menumbuh- kembangkan kecintaan kepada dunia pendidikan, terutama di negara kita sendiri. Jika kita mencintai pendidikan, maka tentunya kita akan berusaha dengan segenap upaya untuk memiliki pendidikan itu sendiri.  Setelah memilikinya, hendaknya bisa diperluas dan diaplikasikan pada kehidupan sehari-hari. Rakyat Indonesia yang cinta pada Tanah Air pastilah melandasi pendidikan bangsa dengan cinta. 

LEMBAGA PENDIDIKAN YANG BERJIWA NASIONAL DI INDONESIA SEBELUM KEMERDEKAAN


1.      Perguruan Taman Siswa
Perguruan Taman Siswa didirikan pada tanggal 3 Juli 1992 oleh Ki Hajar Dewantara di Yogyakarta. Latar belakang berdirinya adalah bahwa sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah Hindi Belanda sesungguhnya tdaklah diperuntukkan bagi kepentingan dan kemajuan rakyat Indonesia melainkan untuk kepentingan politik kolonial.
Berikut adalah Azas Taman Siswa (1922), yaitu:
a.       Setiap orang berhak mengatur dirinya sendiri dengan mengingat tertibnya persatuan dalam prikehidupan umum.
b.      Pendidikan yang diberikan kepada anak hendaklah dapat menjadikan manusia yang merdeka batinnya, fikirannya dan merdeka tenaganya dan bermanfaat untuk kepentingan bersama.
c.       Pendidikan hendaklah didasarkan atas keadaan dan budaya Indonesia yang selaras dengan kodrat kita dan akan memberi kedamaian dalam kehidupan.
d.      Pendidikan harus diberikan kepada seluruh rakyat tanpa terkecuali
e.       Untuk dapat mencapai azas kemerdekaan maka kita harus bekerja sesuai dengan kemampuan sendiri tanpa mengharapkan bantuan orang lain
f.       Oleh karena kita bersandar pada kekuatan sendiri maka haruslah kita memikul semua beban belanja dengan uang sendiri
g.      Pendidik hendaklah mendidik anak dengan sepenuh hati, tulus dan ikhlas, tidak terima sesuatu tetapi menyerahkan diri untuk berhamba kepada sang anak.

Ada lima dasar taman siswa yang disebut sebagai panca darma, yaitu: a) Kebudayaan, b) Kemerdekaan, c) Kodrat Alam, d) Kemanusiaan, e) Kebangsaan.
Tujuan taman siswa adalah menciptakan manusia merdeka lahir dan batin, yakni manusia yang mampu untuk senantiasa membudayakan dirinya demi kebahagian dan kedamaian kesejahteraan masyarakat secara adil dan merata dengan kata lain manusia merdeka lahir dan batin adalah manusia yang mampu untuk senantiasa mewujudkan kemanusiaannya.
2.      Ruang pendidikan INS Kayutanam
INS pada mulanya dipimpin oleh Marah Sutan, kemudian oleh Muhammad Syafei. Dimulai dengan 79 murid, dibagi dalam dua kelas, serta masuk secara bergantiankarena gurunya hanya satu, yaitu Muhammad Syafei. Dinamakan ruang pendidikan karena belajar dilaksanakan pada tempat yang tidak terbatas dengan konsep belajar dan mengajar. Dengan demikian belajar dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja asal punya kemauan.
Azas Ruang Pendidikan INS Kayu Tanam, yaitu: a) Berfikir logis dan rasional, b) Keaktifan dan kegiatan, c) Pendidikan masyarakat, d) Memperhatikan pembawaan anak, e)Menentang intelektualisme.
Tujuan Ruang Pendidikan INS Kayu Tanam, yaitu:
a.       Mendidik rakyat ke arah kemerdekaan
b.      Memberi pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat
c.       Mendidik para pemuda agar berguna bagi masyarakat
d.      Menanamkan kepercayaan terhadap diri sendiri dan berani bertanggung jawab
e.       Mengusahakan mandiri dalam pembiayaan dengan semboyan “Cari sendiri dan kerjakan sendiri”
Usaha-usaha yang dilakukan Ruang Pendidikan INS Kayu Tanam pada zaman Belanda INS yaitu menyelenggarakan berbagai ruang pendidikan. Program pendidikan mengutamakan pendidikan keterampilan. Pada zaman kemerdekaan atas izin pemerintah Belanda, INS mendirikan Ruang pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan (RPPK) di Padang Panjang.
Pada tahun 1952, ia mendirikan percetakan dan penerbitan yang diberi nama “Sridharma” dan menerbitkan majalah bulanan bernama “Sendi” dan buku bacaan untuk pemberantasan buta huruf yang dikenal dengan nama”Kunci 13”. Pada tahun 1953, ia mendirikan program khusus untuk menjadi guru. Semua usaha atas dilakukan secara mandiri tanpa mengharapkan bantuan orang lain yang dapat membatasi kebebasannya.
3.      Perguruan Muhamadiyah
Pendidikan muhamadiyah lahir seiring dengan latar belakang didirikannya Muhamadiyah, yaitu karena adanya beberapa gejala yang muncul ketika itu. Azas pendidikan muhamadiyah adalah Islam dengan berpedoman pada Al-Qur’an dan Hadits.
Tujuan pendidikan Muhamadiyah ialah membentuk manusia muslim, berkhlak mulia, cakap, percaya kepada diri sendiri dan berguna untuk mesyarakat negara. Berdasarkan tujuan tersebut maka target yang ingin dicapai oleh lulusan pendidikan Muhamadiyah adalah aqidah yang lurus, akhlaqul karimah, akal yang sehat dan cerdas, keterampilan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Cita-cita pendidikan muhamadiyah meliputi tiga aspek, yaitu: a) baik budi, alim, dan beragama, b) luas pandangan, alim dalam ilmu-ilmu dunia, c) bersedia berjuang untuk kemauan masyarakatnya. Pendidikan muhamadiyah didasarkan pada tajdid, kemasyarakatan, dan aktivitas.
4.      Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang
Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang didirikan pada tanggal 1 November 1923 di Padang Panjang oleh Rahmah El Yunusiyah dengan panggilan “Etek Amah”. Rahmah mendirikan Diniyah Putri dilatarbelakangi oleh rasa tidak puasnya terhadap Diniyah School yang didirikan tahun 1915 oleh kakak kandungnya, Zainuddin Labay. Tujuan pendidikan diniyah putri padang panjang adalah melaksanakan pendidikan dan pengajaran berdasarkan Islam dengan tujuan membentuk wanita yang berjiwa Islamdan ibu pendidikan yang cakap, aktif, serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan Tanah Air atas dasar pengabdian kepada Allah SWT.
Pendidikan Diniyah didasarkan kepada ajaran Islam dengan berpedoman kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Tujuan pendidikan yang telah dirumuskan diwujudkan melalui program pendidikan sebagai berikut: program pendidikan umum, program pendidikan yang bertujuanagar anak didik memiliki cabang ilmu pengetahuan bidang keahlian agama Islam, program pendidikan yang mengarahkan mereka pada tujuan untuk menjadi ibu pendidik yang baik, program keterampilan, program pendidikan asrama.