------->WELCOME TO MY BLOG.WWW.SYAMDNIA.BLOGSPOT.COM<-------

Jumat, 19 April 2013

HAKEKAT MANUSIA DAN DIMENSI-DIMENSINYA

A.    Sifat Hakekat Manusia
Sifat hakikat manusia diartikan sebagai ciri-ciri karakteristik, yang secara prinsipiil (jadi bukan hanya gradual) membedakan manusia dari hewan. Sifat hakekat manusia menjadi bidang filsafat, khususnya filsafat antropologi. Oleh karena itu pendidikan bukanlah sekedar soal praktek melainkan praktek yang berlandasan dan bertujuan. Sedangkan landasan dan tujuan itu sendiri sifatnya filosofis normatif. Bersifat filosofis karena untuk mendapatkan landasan yang kukuh diperlukan adanya kajian yang bersifat mendasar, sistematis, dan universal tentang ciri hakiki manusia. Bersifat normatif karena pendidikan mempunyai tugas untuk menumbuhkembangkan sifat hakikat manusia tersebut sebagai sesuatu yang bernilai luhur, dan hal itu menjadi keharusan.
B.     Hakekat Manusia menurut beberapa pandangan:
1.      Pandangan Agama
Dalam Islam, hakekat manusia adalah perpaduan antara badan dan ruh. Keduanya masing-masing merupakan substansi yang berdiri sendiri dan tidak saling bergantung satu sama lain. Islam secara tegas mengatakan bahwa kedua substansi tersebut adalah substansi alam, sedangkan alam adalah makhluk, maka keduanya juga makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT.
Hakikat manusia dalam Islam diperkenalkan dalam tiga istilah yaitu:
a.       Al-Insan, digunakan menggambarkan pada keistimewaan manusia penyandang predikat khalifah di muka bumi, sekaligus dihubungkan dengan hakikat penciptaanya.
b.      Al-Basyar, diartikan bahwa manusia adalah makhluk biologis serta memiliki sifat-sifat yang ada di dalamnya, seperti makan, perlu hiburan, seks dan sebagainya.
c.       An-Nas, menunjukkan pada hakekat manusia sebagai makhluk sosial. Kata ini juga ditujukan kepada seluruh manusia tanpa melihat statusnya apakah beriman atau kafir.
2.      Pandangan Filosofis
Menurut Socrates, manusia itu adalah Zoon Politicon (hewan yang bermasyarakat). Max Scheller menggambarkan manusia sebagai Das Kranke Tier (hewan yang sakit) yang selalu gelisah dan bermasalah. Ahli filsafat Yunani juga menyebut manusia sebagai makhluk sosial.
3.      Pandangan Ilmu
a.       Sosiologi
Dalam pandangan sosiologi manusia adalah makhluk sosial. Dia tidak dapat hidup dengan tenang tanpa interaksi dengan orang lain. Manusia harus memiliki interaksi antara satu dengan yang lain.
b.      Psikologi
Ada empat teori dalam psikologi yang menjelaskan tentang manusia, yaitu:
1)      Konsepsi manusia menurut psikoanalisis.
Psikoanalisis adalah aliran dalam psikologi yang memperhatikan struktur jiwa.
2)      Konsep manusia dalam psikologi behavioralisme
Teori behavioralisme lebih dikenal dengan nama teori belajar, karena menurut mereka seluruh perilaku manusia, kecuali insting adalah hasil belajar.
3)      Konsep manusia menurut Psikologi Kognitif
Menurut aliran ini bahwa jiwa manusialah yang menjadi alat utama ilmu pengetahuan, bukan alat indera.
4)      Manusia menurut perspektif Psikologis Humanistik
Menurut aliran ini manusia hidup dalam dunia pengalaman yang bersifat pribadi di mana dia menjadi pusatnya.
c.       Biologi
Dalam pandangan ilmu biologi manusia adalah hewan yang memiliki bentuk yang paling baik dan paling indah.
C.    Harkat dan Martabat Manusia
Harkat dan martabat manusia membedakan manusia dari makhluk-makhluk lainnya di seluruh alam semesta, dimana Harkat dan Martabat Manusia (HMM) mengandung butir-butir bahwa manusia adalah: a) makhluk yang terindah dalam bentuk dan pencitraannya; b) makhluk yang tertinggi derajatnya; c) makhluk yang beriman dan bertaqwa kepada Tuahn Yang Maha Kuasa; d) khalifah dimuka bumi; dan e) pemilik Hak-hak Asasi Manusia (HAM)
D.    Fitrah Manusia
Fitrah manusia, yaitu potensi dasar yang ada pada manusia untuk menuhankan Allah dan selalu condong kepada kebenaran. Pada hakekatnya, dalam diri manusia ada fitrah untuk senantiasa berbuat baik dan menjauhkan diri dari perbuatan jahat. Nurani manusia selalu merindukan kedamaian dan ketenangan. Jauh di dalam lubuk hati manusia, pada dasarnya selalu ada kerinduan untuk terus menerus mengikuti jalan agama yang benar. Inilah fitrah manusia yang sesungguhnya, fitrah yang diajarkan Islam.
E.     Energi Pembelajaran Quantum Learning, Quantum Teaching, dan Quantum Ikhlas
Pembelajaran kuantum merupakan salah satu model, strategi, dan pendekatan pembelajaran yang mengutamakan pada keterampilan guru dalam mengelola pembelajaran. Istilah “quantum” dipinjam dari dunia ilmu fisika yang berarti interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. Maksudnya dalam pembelajaran kuantum, pengubahan bermacam- macam interaksi yang terjadi dalam kegiatan belajar. Interaksi- interaksi ini mengubah kemampuan dan bakat alamiah guru dan siswa menjadi hal yang bermanfaat bagi kemajuan mereka dalam belajar secara efektif dan efisien.
1.      Quantum Learning
Quantum learning adalah kiat, petunjuk, strategi, dan seluruh proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat, serta membuat belajar sebagai suatu proses yang menyenangkan dan bermanfaat. Metode belajar yang digunakan adalah dengan menciptakan konsep motivasi,  menumbuhkan minat, dan belajar aktif. Metode ini dikembangkan agar suasana belajar mengajar yang monoton dan membosankan dapat diminimalisir.

2.      Quantum Teaching
Quantum Teaching adalah pengubahan belajar yang meriah, dengan menyertakan segala kaitan, interaksi dan perbedaan yang memaksimalkan moment belajar serta berfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas serta interksi yang mendirikan landasan dan
kerangka untuk belajar. Quantum Teaching berusaha mengubah suasana belajar yang
monoton dan membosankan ke dalam suasana belajar yang meriah dan  gembira dengan memadukan potensi fisik, psikis, dan emosi. Siswa menjadi suatu kesatuan yang integral. Quantum Teaching berisi prinsip-prinsip system perancangan pengajaran yang efektif, efisien, dan progrersif, berikut metode penyajiannya untuk mendapatkan hasil belajar yang mengagumkan dengan waktu yang sedikit.

3.      Quantum Ikhlas
Quantum ikhlas adalah energi yang tercipta saat manusia benar-benar ikhlas yang bisa membawa manusia menjadi sangat kuat, cerdas dan bijaksana. Karena dengan hati yang ikhlas kita bisa berpikir lebih jernih, mampu menjalani hidup dengan lebih efektif dan produktif untuk mencapai tujuan. Bahkan hubungan dengan siapa pun akan terjalin semakin menyenangkan.
F.     Dimensi-Dimensi Kemanusiaan dan Pengembangannya
Ø  Berikut adalah dimensi-dimensi kemanusiaan:
1.      Dimensi Keindividualan
Manusia sebagai makhluk individual dimaksudkan sebagai orang seorang yang utuh yang terdiri dari kesatuan pisik dan psikis. Kesadaran manusia akan dirinya sendiri merupakan perwujudan individualitas manusia. Makin manusia sadar akan dirinya sendiri, maka ia makin sadar terhadap lingkungannya karena manusia bagian dari lingkungannya.
Pemahaman pendidik yang tepat terhadap karakteristik peserta didiknya secara individual sangat diperlukan dalam proses pendidikan. Sebab setiap individu memiliki latar belakang dan kebutuhan yang berbeda yang menuntut pelayanan pendidikan yang berbeda juga. Oleh sebab itu seorang pendidik harus mampu menciptakan dan memelihara suasana pendidikan yang kondusif dengan memilih dan menvariasikan pendekatan pelajarannya sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.

2.      Dimensi Kesosialan  
Perwujudan manusia sebagai makhluk sosial terutama tampak dalam kenyataan bahwa tidak ada manusia yang mampu hidup sebagai manusia tanpa adanya bantuan dari orang lain. Realita ini menunjukkan bahwa manusia hidup dalam suasana interpedensi, dalam antar hubungan dan antaraksi. Hidup dalam antar hubungan, antaraksi dan interpedensi mengandung konsekuensi-konsekuensi sosial balik yang positif maupun negatif.
Kehidupan sosial adalah realita dimana individu tidak menonjolkan identitasnya. Untuk mengembangkan potensi sosialitas pada diri peserta didik, idealnya pendidik menciptakan susana pembelajaran yang memungkinkan terjalinnya interaksi dan interpedensi siswanya.

3.      Dimensi Kesusilaan
Istilah susila berasal dari dua kata yaitu su yang berarti baik dan sila berarti dasar. Jadi kesusilaan adalah ukuran baik dan buruk. Persoalan kesusilaan berhubungan dengan nilai-nilai. Nilai dapat dibedakan atas nilai otonom, yaitu yang dimiliki/dianut oleh orang perorangan, nilai theonom yaitu nilai keagamaan yang berasal dari pencipta alam semesta ini.
Pada hakekatnya manusia diberikan kemampuan untuk melihat dan membandingkan antara sesuatu yang baik dan buruk dengan kata lain manusia memiliki kata hati, hati nurani untuk mengambil suatu keputusan.
Peserta didik harus memiliki pengetahuan tentang nilai-nilai dalam kehidupan dan menginternalisasikannya. Pendidik tertentu perlu memberikan contoh dan dengan kesabaran mengarahkan perilaku peserta didiknya pada nilai-nilai yang dianut.

4.      Dimensi Keberagamaan
Manusia adalah makhluk yang religius yang mengakui bahwa ada suatu zat yang menguasai alam beserta isinya, yang dipuja dan disembah yang disebut “Ilahi” yaitu Tuhan. Manusia memerlukan agama untuk keselamatan hidupnya kini dan untuk masa yang akan datang. Agama merupakan sandaran vertikal dalam kehidupan manusia. Agar manusia menjadi makhluk yang tunduk dan patuh pada Tuhannya, maka perlu diberikan pendidikan agama sejak dini.
Penanggung jawab utama dan pertama dalam pendidikan agama ini adalah orangta. Selain itu, pendidikan agama tidak hanya tanggung jawab guru agama, tetapi juga tanggung jawab semua guru di sekolah dan tanggung jawab setiap orang untuk saling menasehati pada kebenaran terhadap sesamanya.

Ø  Pengembangan Dimensi-Dimensi Kemanusiaan
Manusia secara individual terlahir kemuka bumi dengan segenap potensinya untuk berkembang. Agar potensi yang dimiliki manusia berkembang optimal maka manusia memerlukan orang lain dalam kehidupannya melaui proses sosialisasi. Tidak ada manusia yang maju dan berhasil tanpa bergaul dan berinteraksi dengan manusia lainnya. Oleh sebab itu setiap individu harus mampu hidup dan menunjukkan kediriannya di tengah-tengah pergaulan sosialnya dan mampu menerima keberadaan orang lain dalam dirinya.
Agar dapat diterima dalam lingkungan sosialnya manusia harus taat nilai. Nilai yang dianutnya tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang diakui oleh masyarakatnya. Selain itu, terbinanya hubungan Vertikal dengan Tuhan Yang Maha Kuasa dapat membuat jiwa manusia menjadi tenang. Hubungan tersebut dapat dibina melalui kepatuhan manusia pada ajaran-ajaran yang disampaikan Tuhannya. Pendidikan yang diberikan harus dapat mengembangkan keempat dimensi kemanusiaan itu secara seimbang.

1 komentar: