A. Sifat
Hakekat Manusia
Sifat
hakikat manusia diartikan sebagai ciri-ciri karakteristik, yang secara
prinsipiil (jadi bukan hanya gradual) membedakan manusia dari hewan. Sifat
hakekat manusia menjadi bidang filsafat, khususnya filsafat antropologi. Oleh
karena itu pendidikan bukanlah sekedar soal praktek melainkan praktek yang
berlandasan dan bertujuan. Sedangkan landasan dan tujuan itu sendiri sifatnya
filosofis normatif. Bersifat filosofis karena untuk mendapatkan landasan yang
kukuh diperlukan adanya kajian yang bersifat mendasar, sistematis, dan
universal tentang ciri hakiki manusia. Bersifat normatif karena pendidikan
mempunyai tugas untuk menumbuhkembangkan sifat hakikat manusia tersebut sebagai
sesuatu yang bernilai luhur, dan hal itu menjadi keharusan.
B. Hakekat
Manusia menurut beberapa pandangan:
1. Pandangan
Agama
Dalam Islam, hakekat manusia adalah perpaduan antara badan dan ruh.
Keduanya masing-masing merupakan substansi yang berdiri sendiri dan tidak
saling bergantung satu sama lain. Islam secara tegas mengatakan bahwa kedua substansi
tersebut adalah substansi alam, sedangkan alam adalah makhluk, maka keduanya
juga makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT.
Hakikat manusia dalam Islam
diperkenalkan dalam tiga istilah yaitu:
a.
Al-Insan, digunakan
menggambarkan pada keistimewaan manusia penyandang predikat khalifah di muka
bumi, sekaligus dihubungkan dengan hakikat penciptaanya.
b.
Al-Basyar, diartikan bahwa manusia adalah makhluk biologis serta memiliki sifat-sifat yang ada
di dalamnya, seperti makan, perlu hiburan, seks dan sebagainya.
c.
An-Nas, menunjukkan
pada hakekat manusia sebagai makhluk sosial. Kata
ini juga ditujukan kepada seluruh manusia tanpa melihat statusnya apakah
beriman atau kafir.
2.
Pandangan Filosofis
Menurut Socrates, manusia itu
adalah Zoon Politicon (hewan yang
bermasyarakat). Max Scheller menggambarkan manusia sebagai Das Kranke Tier (hewan yang sakit) yang selalu gelisah dan
bermasalah. Ahli filsafat Yunani juga menyebut
manusia sebagai makhluk sosial.
3. Pandangan Ilmu
a. Sosiologi
Dalam pandangan sosiologi manusia
adalah makhluk sosial. Dia
tidak dapat hidup dengan tenang tanpa interaksi dengan orang lain. Manusia harus memiliki interaksi antara satu dengan yang lain.
b. Psikologi
Ada empat teori dalam psikologi yang menjelaskan tentang manusia, yaitu:
1) Konsepsi
manusia menurut psikoanalisis.
Psikoanalisis adalah aliran dalam
psikologi yang memperhatikan struktur jiwa.
2) Konsep
manusia dalam psikologi behavioralisme
Teori behavioralisme lebih dikenal
dengan nama teori belajar, karena menurut mereka seluruh perilaku manusia,
kecuali insting adalah hasil belajar.
3) Konsep manusia
menurut Psikologi Kognitif
Menurut aliran ini bahwa jiwa
manusialah yang menjadi alat utama ilmu pengetahuan, bukan alat indera.
4) Manusia
menurut perspektif Psikologis Humanistik
Menurut aliran ini manusia hidup
dalam dunia pengalaman yang bersifat pribadi di mana dia menjadi pusatnya.
c. Biologi
Dalam pandangan ilmu biologi manusia adalah hewan yang memiliki bentuk yang
paling baik dan paling indah.
C.
Harkat dan
Martabat Manusia
Harkat dan martabat manusia
membedakan manusia dari makhluk-makhluk lainnya di seluruh alam semesta, dimana
Harkat dan Martabat Manusia (HMM) mengandung
butir-butir bahwa
manusia adalah: a) makhluk yang terindah dalam bentuk dan pencitraannya; b)
makhluk yang tertinggi derajatnya; c) makhluk yang beriman dan bertaqwa kepada
Tuahn Yang Maha Kuasa; d) khalifah dimuka bumi; dan e) pemilik Hak-hak Asasi
Manusia (HAM)
D.
Fitrah Manusia
Fitrah
manusia, yaitu potensi dasar yang ada pada manusia untuk menuhankan Allah dan
selalu condong kepada kebenaran. Pada
hakekatnya, dalam diri manusia ada fitrah untuk senantiasa berbuat baik dan
menjauhkan diri dari perbuatan jahat. Nurani manusia selalu merindukan
kedamaian dan ketenangan. Jauh di dalam lubuk hati manusia, pada dasarnya
selalu ada kerinduan untuk terus menerus mengikuti jalan agama yang benar.
Inilah fitrah manusia yang sesungguhnya, fitrah yang diajarkan Islam.
E.
Energi Pembelajaran Quantum Learning, Quantum
Teaching, dan Quantum Ikhlas
Pembelajaran kuantum merupakan salah satu model,
strategi, dan pendekatan pembelajaran yang mengutamakan pada keterampilan guru
dalam mengelola pembelajaran. Istilah “quantum” dipinjam dari dunia ilmu fisika
yang berarti interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. Maksudnya dalam
pembelajaran kuantum, pengubahan bermacam- macam interaksi yang terjadi dalam
kegiatan belajar. Interaksi- interaksi ini mengubah kemampuan dan bakat alamiah
guru dan siswa menjadi hal yang bermanfaat bagi kemajuan mereka dalam belajar
secara efektif dan efisien.
1. Quantum Learning
Quantum learning
adalah kiat,
petunjuk, strategi, dan seluruh proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman
dan daya ingat, serta membuat belajar sebagai suatu proses yang menyenangkan
dan bermanfaat. Metode
belajar yang digunakan adalah dengan menciptakan konsep
motivasi, menumbuhkan minat, dan belajar
aktif. Metode ini
dikembangkan agar suasana belajar mengajar yang monoton dan membosankan dapat
diminimalisir.
2. Quantum Teaching
Quantum Teaching adalah pengubahan
belajar yang meriah, dengan menyertakan segala kaitan, interaksi dan perbedaan
yang memaksimalkan moment belajar serta berfokus pada hubungan dinamis dalam
lingkungan kelas serta interksi yang mendirikan landasan dan
kerangka untuk belajar. Quantum Teaching berusaha mengubah suasana belajar yang
monoton dan membosankan ke dalam suasana belajar yang meriah dan gembira dengan memadukan potensi fisik, psikis, dan emosi. Siswa menjadi suatu kesatuan yang integral. Quantum Teaching berisi prinsip-prinsip system perancangan pengajaran yang efektif, efisien, dan progrersif, berikut metode penyajiannya untuk mendapatkan hasil belajar yang mengagumkan dengan waktu yang sedikit.
kerangka untuk belajar. Quantum Teaching berusaha mengubah suasana belajar yang
monoton dan membosankan ke dalam suasana belajar yang meriah dan gembira dengan memadukan potensi fisik, psikis, dan emosi. Siswa menjadi suatu kesatuan yang integral. Quantum Teaching berisi prinsip-prinsip system perancangan pengajaran yang efektif, efisien, dan progrersif, berikut metode penyajiannya untuk mendapatkan hasil belajar yang mengagumkan dengan waktu yang sedikit.
3.
Quantum Ikhlas
Quantum ikhlas adalah energi yang tercipta saat
manusia benar-benar ikhlas yang bisa membawa manusia menjadi
sangat kuat, cerdas dan bijaksana. Karena dengan hati yang ikhlas kita bisa
berpikir lebih jernih, mampu menjalani hidup dengan lebih efektif dan produktif
untuk mencapai tujuan. Bahkan hubungan dengan siapa pun akan terjalin semakin
menyenangkan.
F. Dimensi-Dimensi Kemanusiaan dan Pengembangannya
Ø Berikut adalah dimensi-dimensi kemanusiaan:
1. Dimensi Keindividualan
Manusia sebagai
makhluk individual dimaksudkan sebagai orang seorang yang utuh yang terdiri
dari kesatuan pisik dan psikis. Kesadaran manusia akan dirinya sendiri
merupakan perwujudan individualitas manusia. Makin manusia sadar akan dirinya
sendiri, maka ia makin sadar terhadap lingkungannya karena manusia bagian dari
lingkungannya.
Pemahaman
pendidik yang tepat terhadap karakteristik peserta didiknya secara individual
sangat diperlukan dalam proses pendidikan. Sebab setiap individu memiliki latar
belakang dan kebutuhan yang berbeda yang menuntut pelayanan pendidikan yang
berbeda juga. Oleh sebab itu seorang pendidik harus mampu menciptakan dan
memelihara suasana pendidikan yang kondusif dengan memilih dan menvariasikan
pendekatan pelajarannya sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.
2. Dimensi Kesosialan
Perwujudan manusia sebagai makhluk sosial terutama tampak dalam kenyataan
bahwa tidak ada manusia yang mampu hidup sebagai manusia tanpa adanya bantuan
dari orang lain. Realita ini menunjukkan bahwa manusia hidup dalam suasana
interpedensi, dalam antar hubungan dan antaraksi. Hidup dalam antar hubungan, antaraksi
dan interpedensi mengandung konsekuensi-konsekuensi sosial balik yang positif
maupun negatif.
Kehidupan sosial adalah realita dimana individu tidak menonjolkan
identitasnya. Untuk mengembangkan potensi sosialitas pada diri peserta didik,
idealnya pendidik menciptakan susana pembelajaran yang memungkinkan terjalinnya
interaksi dan interpedensi siswanya.
3. Dimensi Kesusilaan
Istilah susila berasal dari
dua kata yaitu su yang berarti baik
dan sila berarti dasar. Jadi
kesusilaan adalah ukuran baik dan buruk. Persoalan kesusilaan berhubungan
dengan nilai-nilai. Nilai dapat dibedakan atas nilai otonom, yaitu yang
dimiliki/dianut oleh orang perorangan, nilai theonom yaitu nilai
keagamaan yang berasal dari pencipta alam semesta ini.
Pada hakekatnya manusia
diberikan kemampuan untuk melihat dan membandingkan antara sesuatu yang baik
dan buruk dengan kata lain manusia memiliki kata hati, hati nurani untuk
mengambil suatu keputusan.
Peserta didik harus memiliki
pengetahuan tentang nilai-nilai dalam kehidupan dan menginternalisasikannya.
Pendidik tertentu perlu memberikan contoh dan dengan kesabaran mengarahkan
perilaku peserta didiknya pada nilai-nilai yang dianut.
4. Dimensi Keberagamaan
Manusia adalah makhluk yang
religius yang mengakui bahwa ada suatu zat yang menguasai alam beserta isinya,
yang dipuja dan disembah yang disebut “Ilahi” yaitu Tuhan. Manusia memerlukan
agama untuk keselamatan hidupnya kini dan untuk masa yang akan datang. Agama
merupakan sandaran vertikal dalam kehidupan manusia. Agar manusia menjadi
makhluk yang tunduk dan patuh pada Tuhannya, maka perlu diberikan pendidikan
agama sejak dini.
Penanggung jawab utama dan
pertama dalam pendidikan agama ini adalah orangta. Selain itu, pendidikan agama
tidak hanya tanggung jawab guru agama, tetapi juga tanggung jawab semua guru di
sekolah dan tanggung jawab setiap orang untuk saling menasehati pada kebenaran
terhadap sesamanya.
Ø Pengembangan Dimensi-Dimensi
Kemanusiaan
Manusia secara individual terlahir kemuka bumi dengan segenap potensinya
untuk berkembang. Agar potensi yang dimiliki manusia berkembang optimal maka
manusia memerlukan orang lain dalam kehidupannya melaui proses sosialisasi.
Tidak ada manusia yang maju dan berhasil tanpa bergaul dan berinteraksi dengan
manusia lainnya. Oleh sebab itu setiap individu harus mampu hidup dan
menunjukkan kediriannya di tengah-tengah pergaulan sosialnya dan mampu menerima
keberadaan orang lain dalam dirinya.
Agar dapat diterima dalam lingkungan sosialnya manusia harus taat nilai.
Nilai yang dianutnya tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang diakui oleh
masyarakatnya. Selain itu, terbinanya hubungan Vertikal dengan Tuhan Yang Maha
Kuasa dapat membuat jiwa manusia menjadi tenang. Hubungan tersebut dapat dibina
melalui kepatuhan manusia pada ajaran-ajaran yang disampaikan Tuhannya.
Pendidikan yang diberikan harus dapat mengembangkan keempat dimensi kemanusiaan
itu secara seimbang.
Artikelnya sangat bermanfaat mbak...
BalasHapus